“Warga Tangma dan Ukha Sepakat Tolak Kekerasan, Seruan Damai di Tengah Konflik Bersenjata di PaPapua”
Detikpapua.com – Wamena, Seruan “damai menggema dari Distrik Tangma dan Ukha di Papua Pegunungan ketika tokoh-tokoh adat, pemimpin gereja, aparat kampung, serta masyarakat sipil bersatu menyuarakan penolakan terhadap pertumpahan darah di wilayah mereka. Inisiatif ini difasilitasi oleh Yayasan Keadilan dan Keutuhan Manusia Papua (YKKMP) sebagai respons atas meningkatnya ketegangan militer dan dampaknya terhadap warga sipil.
Direktur YKKMP, Theo Hesegem, menegaskan, kelompok bersenjata yang sebelumnya beroperasi di wilayah tersebut, yakni TPNPB pimpinan Egianus Kogeya, telah meninggalkan Tangma dan Ukha. Dengan dasar itu, Hesegem meminta aparat TNI/Polri segera menarik pasukan dari Gunung Onggolo.
“Kami ingin masyarakat bisa kembali hidup normal, bertani, beribadah tanpa ketakutan. Jika kelompok bersenjata sudah pergi, maka aparat pun harus angkat kaki dari wilayah ini,” ujar Theo dalam konferensi pers di kantor YKKMP, Selasa (8/7/2025).
Ia menyoroti pentingnya penerapan prinsip-prinsip hukum humaniter internasional dalam konflik bersenjata, termasuk perlindungan maksimal terhadap warga sipil dan fasilitas publik. Theo mengkritik keras kejadian di Air Garam, di mana dua pekerja bangunan gereja dibunuh tanpa dasar standar kemanusiaan dan satu warga sipil di Tangma.
“Sudah tiga warga sipil jadi korban. Mereka tidak tahu apa-apa tentang konflik ini. Perang seperti itu sama sekali tidak beretika,” tambahnya.
Sebagai bentuk simbolis penolakan konflik, masyarakat Tangma dan Ukha telah memasang delapan baliho di berbagai titik strategis. Baliho ini berisi pernyataan seluruh elemen masyarakat yang menolak kekerasan dan menyerukan perlindungan terhadap warga sipil sesuai hukum internasional.
Ketua Klasis Kingmi Tangma, Pdt. Yonius Hesegem, menyampaikan keprihatinannya atas kondisi umat yang masih terpaksa mengungsi di gereja karena situasi belum kondusif. Ia meminta aparat tidak melakukan tindakan represif di kawasan pemukiman.
“Kami minta jangan sembarang tembak. Di Tangma dan Ukha, hanya ada warga sipil. Jangan jadikan tempat ibadah dan rumah warga sebagai sasaran operasi,” ujarnya.
Dari Distrik Ukha, Kepala Distrik Eliaser Aspalek juga melayangkan imbauan agar tidak ada lagi perang di tengah pemukiman:
“Ini tempat masyarakat mencari nafkah, menjalani hidup. Jika TPNPB sudah hengkang, maka aparat harus meninggalkan Gunung Onggolo. Warga sudah trauma dengan pengawasan drone dan pemeriksaan yang mereka alami tiap melewati gunung itu.”ujarnya.
Di tengah situasi darurat, Pemerintah Kabupaten Yahukimo dan DPRK Yahukimo telah menyalurkan bantuan logistik kepada warga yang mengungsi. Aksi solidaritas juga dilakukan oleh mahasiswa di Wamena, yang menggalang dukungan dan donasi untuk orang tua mereka yang terdampak di Tangma.
Meskipun bantuan sudah tersalurkan, kebutuhan warga belum sepenuhnya terpenuhi. Kegiatan masyarakat masih terhambat, dan trauma akibat konflik terus menghantui kehidupan sehari-hari. (Red).
![]()

More Stories
Bupati Nabire Batasi Pembelian BBM Bersubsidi, Kendaraan Luar Daerah dan Kendaraan Dinas Tak Lagi Dilayani
Kominfo Maybrat Perkuat Kompetensi ASN dalam Pengelolaan Informasi dan Komunikasi Publik
KNPB Wilayah Paniai Lantik Pengurus Sektor Wedauma