DETIKPAPUA.COM: MAYBRAT – Uskup Manokwari-Sorong, Mgr. Hilarion Datus Lega, mengajak umat dan seluruh masyarakat di Kabupaten Maybrat untuk tidak kehilangan harapan serta terus memperkuat doa bagi terciptanya perdamaian, terutama di wilayah Aifat Timur yang belakangan menghadapi situasi yang meresahkan.
Seruan tersebut disampaikan Mgr. Hilarion saat memimpin Perayaan Ekaristi Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga di Stasi Santo Paulus Kumurkek, Paroki Santo Yoseph Ayawasi, Minggu (16/8/2026).
Kehadiran Uskup dalam kunjungan pastoral di Maybrat berlangsung di tengah situasi masyarakat yang membutuhkan ketenangan dan penguatan. Selain melihat perkembangan karya pastoral di Paroki Santo Yoseph Ayawasi, Mgr. Hilarion secara khusus membawa kondisi Maybrat dalam doa bersama umat.
Sejak awal perayaan, intensi Misa diarahkan bagi perdamaian di Tanah Maybrat, secara khusus Aifat Timur. Umat diajak menyerahkan berbagai persoalan yang terjadi kepada Tuhan sambil tetap menjaga persaudaraan dan menghindari sikap yang dapat memperbesar konflik.
Dalam homilinya, Mgr. Hilarion menghubungkan situasi yang sedang dihadapi masyarakat dengan pesan iman dalam Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga. Menurutnya, perjalanan bangsa Israel dan kehidupan Bunda Maria memperlihatkan bagaimana iman dan harapan tetap dipertahankan ketika manusia berada dalam penderitaan.
“Prinsip hidup kaum beriman saat itu sangat sederhana: kita boleh kehilangan apa saja, tetapi jangan sampai kehilangan Tuhan,” ungkap Mgr. Hilarion.
Ia mengatakan, pengalaman bangsa Israel ketika berada dalam pembuangan tidak membuat mereka kehilangan harapan. Kesetiaan kepada Tuhan justru menjadi kekuatan untuk melewati masa sulit hingga akhirnya memperoleh pemulihan.
Pesan serupa, menurutnya, dapat dilihat dalam kehidupan Bunda Maria yang menjadi teladan iman bagi umat Katolik.
“Kalau Abraham disebut sebagai bapa orang beriman, maka Maria adalah ibu orang-orang beriman. Imannya tidak lahir tanpa penderitaan,” katanya.
Mgr. Hilarion menjelaskan, Maria tetap teguh sejak menerima kabar sukacita, melahirkan Yesus dalam kesederhanaan, mengalami berbagai peristiwa dalam perjalanan hidup Putranya, hingga berdiri di bawah salib menyaksikan penderitaan Yesus.
Dari keteguhan tersebut, umat diajak belajar menghadapi persoalan hidup tanpa kehilangan iman maupun harapan.
“Kita menghormati Maria bukan karena patungnya, melainkan karena iman, kerendahan hati, kemurnian, dan ketaatannya kepada Allah. Ia menjadi teladan bahwa siapa pun yang setia kepada Tuhan akan memperoleh keselamatan,” tegasnya.
Di tengah perayaan Ekaristi, perhatian Mgr. Hilarion kemudian kembali diarahkan pada kondisi Maybrat. Uskup memimpin doa khusus agar berbagai persoalan yang terjadi tidak berkembang menjadi konflik yang lebih luas di tengah masyarakat.
Dalam doa tersebut, ia memohon campur tangan Tuhan agar masyarakat tidak terjebak dalam prasangka, kebencian maupun perpecahan.
“Ya Bapa yang Maharahim, kami mohon campur tangan-Mu agar peristiwa ini tidak semakin menimbulkan prasangka, kebencian, dan situasi yang mengganggu perdamaian,” demikian doa Mgr. Hilarion.
Ia juga memohon agar semua pihak diberikan keberanian dan ketulusan untuk mencari kebenaran serta menyelesaikan setiap persoalan melalui jalan yang damai.
“Bimbinglah semua pihak agar dengan ketulusan hati, kejujuran, dan keberanian mengungkapkan kebenaran yang sesungguhnya, saling mengampuni, serta bersama-sama membangun kembali kerukunan dan perdamaian di atas tanah ini,” lanjutnya.
Pesan perdamaian tersebut mendapat penegasan dari Pastor Rekan Paroki Santo Yoseph Ayawasi, P. Fransiskus Katino, Pr. Ia mengingatkan umat agar kondisi yang sedang terjadi tidak dimanfaatkan untuk memperbesar ketegangan di tengah masyarakat.
“Kita jangan mudah terprovokasi oleh pihak-pihak yang memiliki kepentingan tertentu. Marilah kita menyerahkan seluruh persoalan kepada Tuhan dan mempercayakan proses penegakan kebenaran kepada pihak yang berwenang,” ujar P. Fransiskus.
Ia berharap masyarakat Maybrat tetap menjaga ketenangan dan persaudaraan, meskipun menghadapi situasi yang tidak mudah.
“Semoga Maybrat senantiasa hidup dalam damai,” ajaknya.
Perayaan Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga di Stasi Santo Paulus Kumurkek pun menjadi momentum bagi umat untuk memperkuat iman sekaligus meneguhkan harapan akan perdamaian.
Di tengah berbagai persoalan yang sedang dihadapi, pesan yang disampaikan Mgr. Hilarion dan P. Fransiskus mengarah pada satu hal: masyarakat Maybrat diajak tidak kehilangan Tuhan, tidak kehilangan harapan, serta tetap menjaga persaudaraan agar kedamaian dapat kembali tumbuh di Tanah Maybrat.
Pewarta: Charles Fatie
![]()

More Stories
Dana Otsus Belum Cair, Sekda Maybrat: Terlalu Banyak Sistem yang Mengatur
Okto Sineri: Data OAP Jadi Kunci Perencanaan Pembangunan dan Ketepatan Dana Otsus
Pemkab Maybrat dan SKALA Papua Barat Daya Dorong Percepatan Pendataan OAP