DETIKPAPUA.COM : Wamena – Upaya meredam konflik serta memberikan bantuan berupa bahan makanan (Bama) dan perlengkapan tidur terus dilakukan kepada para pengungsi, khususnya bagi kelompok Lani dan Wouma–Kurima sejak pasca kejadian pada Kamis sore, 7 Mei 2026.
Seorang ibu rumah tangga (Mama), Ketua Mama – Mama Noken delapan kabupaten Papua Pegunungan menyampaikan rasa sedih dan keprihatinan mendalam atas puluhan orang yang telah gugur di Kali Uwe. Ia berharap agar tidak lagi terjadi pertumpahan darah, sebab menurutnya orang Papua dengan kulit hitam dan rambut keriting semakin terancam punah dari atas tanah leluhur.
Pascakonflik dan Gerakan Donasi
Pascakonflik antar keluarga suku Wouma–Kurima dan Lani pada 14–15 Mei 2026, berbagai pihak terus bergerak melakukan lobi donasi. Bantuan yang terkumpul kemudian disalurkan ke tempat pengungsian, sekaligus ke posko pertikaian di Wamena.
Seorang Mama tidak hanya merasa kehilangan atas kepergian orang-orang terkasih, tetapi juga menanggung luka mendalam. Anak adalah harapan seorang Mama, kebanggaan orang tua, sekaligus penopang masa tua. Kehilangan anak berarti kehilangan harapan hidup.
Suara Perempuan Papua Pegunungan
Seorang Mama mewakili suara perempuan delapan kabupaten ini mengatakan, bahwa kehilangan ini begitu berat, karena seorang Mama telah mengandung sembilan bulan, merawat, dan membesarkan anak dengan penuh kasih. Luka akibat konflik membuatnya tidak ingin lagi ada korban jiwa.
Ia sebagai tokoh perempuan Papua Pegunungan, ia menyerukan agar tidak boleh lagi terjadi perang saudara. “Hitam kulit, keriting rambut adalah satu honai, satu ras, satu nenek moyang. Hubungan kekerabatan dan kekeluargaan adalah warisan turun-temurun yang harus dijaga,” seruan Limina Wenda,SE yang keseharian sebagai ASN,Kabid Pelindugan perempuan dan Anak, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan anak Papua Pegunungan.
Ia juga sebagai pemimpin organisasi Kepala Suku pejuang Pepera Provinsi Papua Pegunungan mengapresiasi upaya Gubernur Papua Pegunungan, Bupati Jayawijaya, Bupati Lanny Jaya, Bupati Yahukimo, Wakil Menteri Dalam Negeri, Kapolda Papua, serta Pangdam XVII Cenderawasih serta semua pihak yang telah memfasilitasi kedua pihak untuk menyelesaikan konflik secara terbuka. Selanjutnya, ritual adat pelepasan panah akan dilakukan sesuai budaya masing-masing.
Seruan Perdamaian
Dengan adanya kesepakatan ini, tidak boleh lagi terjadi perang susulan. Jika konflik kembali muncul, itu berarti masalah baru di luar persoalan yang telah diselesaikan.
“Atas nama kepala suku pejuang Pepera, kami tahu sejarah leluhur tidak pernah berperang sembarangan, tidak pernah membunuh sembarangan. Ini adalah perang keluarga yang harus segera diatasi secara permanen,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa ini adalah pertama dan terakhir kalinya terjadi perang suku di Wamena, ibu kota Provinsi Papua Pegunungan. Kesepakatan semua pihak harus dijunjung tinggi dan dihormati.
Penutup
“Mari kita jaga sesama orang Papua, jaga tatanan kehidupan budaya, sosial, adat istiadat, kebersamaan, dan kekeluargaan. Kita adalah satu Mama dan satu Bapa. Tinggalkan perbedaan, satukan hati untuk membangun Papua Pegunungan tanpa konflik sosial dan tanpa perang,” pungkasnya.
Wamena, Sabtu 23 Mei 2025
Limina Wenda, SE., M.SM
Ketua Kepala Suku Pejuang Pepera Papua Pegunungan (KSPP-PP), Ketua Mama – Mama Noken Delapan Kabupaten & Kabid Pelindugan perempuan dan Anak Papua Pegunungan.
Dokumen yang lampirkan adalah upaya Kepala Suku Pejuang Pepera untuk serukan perdamaian konflik, penyaluran bantuan Bama dan alat tidur sejak kejadian hingga perdamaian.
















![]()

More Stories
Pertamina Patra Niaga Perkuat Pengawasan BBM Subsidi Bersama Satgas Lintas Sektoral, Temukan Indikasi Penyalahgunaan di Manokwari
Gubernur John Tabo Lepas Pemuda Pelopor Papua Pegunungan ke DIY Yogyakarta
APMS di delapan kabupaten tidak beroperasi, akan memberikan sangsi tegas