(Memahami Pemikiran dan Perjuangan Vandana Shiva)
*Siorus Ewainaibi Degei
Pada tulisan seri pertama dan seri kedua sudah sejenak secara sekilas lalu kita berkenalan dengan sosok Vandana Shiva, ibu bumi, demi tanah dan benih yang gigih, berani dan konsisten penuh dedikasi memperjuangkan bukan saja hak asasi hidup manusia, tetapi lebih luas, dalam dan jauh dari itu hak asasi benih asli, keanekaragaman hayati asli. Shiva melihat benih dan spesies asli terancam dominasi benih dan spesias asing yang berkembang dengan semangat bio-imperialisme, penjajahan benih dan pangan.
Pemikiran dan Perjuangan Shiva
Shiva sendiri dalam kisahnya menceritakan bahwa ia sudah mulai menjalin relasi yang cukup intim dengan pemandangan dan suara, rasa dan bau hutan Hilmalaya. Bagi Shiva, hutan Hilmalaya adalah tempat ia tumbuh, tempat lahir fisik dan intelektualnya. Ia merasa memiliki kedekatan emosional yang erat dengan hutan rhododendron, oak, dan deodar, serta nainital, Pithoragarh, Tehri, Uttarkashi dan Dehradun. Hilmalaya kini merupakan negara bagian independen yang disebut Uttarakhand (negara bagian pengunungan).
Hilmalaya tempat tumbuh besarnya Shiva, sepertinya sudah sejak lama menjadi lahan buruan pihak-pihak yang tak bertanggung jawab. Dalam sejarahnya, Inggris menganeksasi distrik Hilmalaya sejak tahun 1815. Misi Inggris adalah mengeksploitasi hutan yang bagi Shiva adalah segalanya itu.
Di pengunungan Hilmalaya tumbuh banyak pohon pinus yang dalam ucapakan masyarakat setempat mereka juluki dengan nama chir. Chir menjadi salah satu komoditas unggulan buruan Inggris. Inggris menebang banyak pohon chir yang akan mereka jadikan sebagai bantalan pada jalur kereta apinya. Tidak saja hutan, sungai-sungai di sekitar juga menjadi primadona buruan Inggris. Pada tahun 1850, tuan Wilson memperoleh sewa untuk menghabisi semua hutan yang ada di sekitar aliran sungai Bhagirathi dengan upah sewanya sebesar Rs 400. Kapak milik tuan Wilson, sudah membabat habis hutan deodar dan hutan chir yang nilainya sangat berharga bagi warga lokal.
Apa yang tuan Wilson buat ini serasa menjadi undangan untuk para pengusaha kayu lainnya di Inggris. Pada tahun 1864, penguasa Inggris di provinsi-provinsi bagian barat laut mendapatkan sewa untuk mengahabisi hutan-hutan yang ada. Tuan Wilson membuka jalan kematian hutan-hutan alam di India dalam periode 1895, 1897 dan 1898. Tentu merespons itu warga setempat tidak tinggal diam dan duduk manis pangku tangan kaki. Perlawanan warga setempat sempat muncul hingga berujung pada insiden. Merespons resistensi warga lokal, pada 31 Maret 1905, ada surat Edaran Durbar dari raja Their, yang isi adalah pengumuman untuk modifikasi pembatasan yang dialami warga desa.
Sekalipun raja Their sudah menggeluarkan sikap resmi atas tindakan Inggris terhadap hutan-hutan milik warga lokal. Rupanya, Inggris belum begitu puas, mereka masih haus untuk mengeksploitasi hutan-hutan yang ada dengan jalan mendekam perlawanan warga lokal. Pada tahun 1930, warga lokal, orang-orang Garhwal melayangkan gerakan non-kerjasama yang mereka namakan satyagraha hutan untuk melawan hukum hutan yang menindas wilayah Rawain.
Inggris tidak tinggal diam, bukannya bertobat, mereka malah berambisi untuk mencaplok semua wilayah dan hutan milik warga lokal India. Inggris menggunakan kekuatan militer, mereka menghancurkan gerakan satyagraha damai di Tilari. Banyak warga lokal yang tergabung dalam gerakan satyagraha yang menjadi korban senjata, ada yang terluka tapi ada juga yang terbunuh. Banyak yang lari menyeberangi jeram sungai Yamuna. Gerakan satyagraha ini, kemudian pada tahun-tahun mendatang akan melahirkan gerakan Chipko, ini adalah gerakan yang isinya adalah orang-orang yang punya komitmen untuk mencintai, menjaga dan melindungi hutan ulayat mereka.
Hutan Hilmalaya sudah menjadi bagian terpenting dalam kehidupan Shiva, ia berkisah tentang bagaimana ia menemani ayahnya yang adalah seorang pelestari hutan yang bertugas memeriksa dan mengelolah hutan serta meregenerasinya. Sejak kecil, masa libur Shiva sempatkan untuk menemani ayahnya berkeliling menyusuri hutan Hilmalaya. Ia begitu dekat dengan hutan, ia belajar nilai-nilai kesederhanaan dan kemiskinan dari alam. Adanya relasi intimitas dengan alam inilah yang membuat Shiva bergabung dengan gerakan Chipko ketika hutan-hutan di India terancam menghilang. Gerakan Chipko merupakan perluasan dari gerakan satyagraha gandhi tradisional. Gerakan satyagraha Gandhi sendiri muncul sebelum kemerdekaan atau pra kemerdekaan, sementara gerakan Chipko adalah gerakan satyagraha sesudah kemerdekaan (pasca kemerdekaan).
Jadi, gerakan Chipko adalah kesinambungan bentuk gerakan satyagraha. Ada banyak penganut ajaran Gandhi yang menyediakan gerakan-gerakan yang bernafaskan semangat emansipasi gandhi, seperti Sri Dev Suman, Mira Behn dan Sarala Behn. Gerakan Chipko sebagai sebuah bentuk satyagraha menganut juga pandangan-pandangan Gandhi tentang pembangunan yang semestinya mempertimbangkan keadilan dan stabilitas ekologis. Murid-murid gandhi punya kontribusi dalam gerakan-gerakan sosial yang mengambil semangat Gandhi, salah satunya gerakan Chipko. Murid-murid Gandhi punya kontribusi terhadap pertumbuhan kekuatan perempuan dan kesadaran ekologis bagi warga-warga lokal yang tempatnya mengalami ancaman pemusnahan, misalnya kontribusi Mira Behn dan Sarala Behn yang punya peran dalam menjagat stabilitas dan keadilan ekologis di perbukitan Uttar Pradesh.
Mira Behn dan Sarala Behn mengkaderkan banyak anak-anak muda untuk tampil sebagai aktivis Gandhi, artinya aktivis yang menjadikan Gandhi sebagai panutan perjuangan. Dari banyak yang ada, Sunderlal Bahuguna menjadi yang terkemuka. Selain penghancuran hutan lewat jalan penebangan liar, Mira Behn juga mengungkapkan bahwa hal lain juga yang menimpa hutan Hilmalaya, yaitu perubahan spesies yang menyebabkan degradasi ekologis di Hilmalaya. Ada banyak spesias di hutan yang mengalami kemerosotan fungsi organ-organnya.
Shiva juga berkisah bahwa, rumahnya selalu menjadi rujukan dari para aktivis sosial, penyair dan intelektual yang mau memahami hutan Hilmalaya. Orang-orang seperti Sunderlal Bahuguna, Bimla Bahuguna dan Ghansyham Raturi selalu berdiskusi dengan orangtua Vandana Shiva. Nuansa ini tidak asing bagi Shiva muda, ia sendiri melihat dari dekat bagaimana perjuangan dari para aktivis Gandhi lewat wadah Chipko. Inilah juga yang barangkali mempengaruhi Shiva untuk selalu dekat dengan para aktivis, bahkan dirinya sendiri tampil layaknya aktivis Gandhi sejati.
Asal-muasal gerakan Chipko, sejatinya muncul pada tahun 1972, ketika itu ada banyak kaum perempuan yang beraksi di tengah hutan guna menghadang operasi penebangan pohon. Cara yang mereka gunakan terbilang unik dan heroik, mereka memeluk erat batang-batang pohon dan saling berpegang. Gerakan aksi tersebut kemudian oleh Raturi ia namakan sebagai gerakan Chipko yang dalam bahasa India artinya adalah ‘berpegangan’. Ada banyak orang yang menyaksikan aksi-aksi dari gerakan Chipko yang berusaha melawan perusahan-perusahan yang mengeksploitasi hutan Hilmalayah secara komersial menggunakan alat-alat kontraktor canggih yang mereka miliki pada 12 Desember 1972 di Uttarkashi dan pada 15 Desember 1972 di Gopeshwar dan kemudian berpuncak pada tahun 1973. Di belakang kedua gerakan tersebut ada nama Raturi dan Chandi Prasad Bhatt. Pada tahun yang sama pun berlangsung pertemuan Sarvodaya Mandal pada bulan April 1973. Pada saat demonstrasi warga desa membludak, mereka memprotes operasi penebangan pohon as di hutan Mandal.
Selain Raturi, Bahuguna juga berandil di sana, ia meminta rekan-rekannya untuk jalan kaki ke distrik Chamoli, mereka mengintai dari belakang buruh-buruh yang hendak menebang pohon. Ada aksi militan juga yang terjadi di Uttarkashi, di mana ribuan orang secara damai tanpa kekerasan memperjuangkan hak-hak dasar alamnya pada 1973. Goura Devi juga memimpin 27 perempuan berusia 50 tahun untuk menyelamatkan pohon dari tangan kontraktor di Reni, sebuah desa kecil pada bulan Maret 1974. Lantaran rentetan aski militant dari ribuan warga lokal, maka pemerintah mencabut sistem penebangan kontrak swasta. Bagi gerakan Chipko ini adalah buah pertama dari perjuangan mereka menjaga dan melindungi rumah, tanah, air dan alam semesta lainnya dari tangan-tangan manusia bejat, tamak dan mafia ekologis. Bersambung. (*)
)* Penulis adalah Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Fajar Timur, Abepura-Papua.
![]()

More Stories
Mahasiswa dan OKP di Wamena Tolak Pemekaran Kabupaten Benawa, Aspirasi Di Terima DPR Papua Pegunungan
Diskominfo Jayawijaya Dorong Integrasi Data Lewat Command Center
Pemda Jayawijaya Tekan Inflasi dan Jelang Lebaran Rencana Pasar Murah