24 Januari 2026

DETIK PAPUA

Berita Papua Terkini

Seruan Penolakan Kehadiran PSN dan Sawit di Papua: Pemuda Katolik Komisariat Cabang Kabupaten Paniai, Presiden Prabowo Papua Bukan Tanah Kosong

( Oleh. Yunus Gobai, S.Kom,.Gr Ketua Pemuda Katolik Komisariat Cabang Kabupaten Paniai )

Paniai DETIKPAPUA. COM Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto berharap, Papua turut ditanami sawit agar dapat berswasembada energi dengan menghasilkan bahan bakar minyak (BBM) dari sawit.

“Dan juga nanti kita berharap di daerah Papua pun harus ditanam kelapa sawit supaya bisa menghasilkan juga BBM dari kelapa sawit,” ujar Prabowo saat memberi pengarahan dalam rapat percepatan pembangunan Papua di Istana Negara mengutip Kompas.com di Jakarta, Selasa (16/12).

Prabowo juga ingin di Papua ditanam tebu hingga singkong agar bisa memproduksi etanol. Kepala negara mengharapkan dalam lima tahun ke depan, semua daerah, termasuk Papua bisa swasembada energi dan swasembada pangan.

Juga tebu menghasilkan etanol, singkong cassava juga untuk menghasilkan etanol sehingga kita rencanakan dalam 5 tahun semua daerah bisa berdiri di atas kakinya sendiri swasembada pangan dan swasembada energi,” kata Prabowo

Kepala negara juga ingin daerah-daerah Papua menikmati hasil dari energi yang diproduksi di Bumi Cendrawasih. Selanjutnya, pihakanya ingin pemanfaatan tenaga surya atau tenaga air dioptimalkan di Papua.

Menurut Prabowo, teknologi tenaga surya dan tenaga air sudah semakin murah dan bisa menjangkau daerah-daerah terpencil.

“Ini semua adalah supaya ada kemandirian tiap daerah. Kalau ada tenaga surya dan tenaga air, tidak perlu kirim-kirim BBM mahal-mahal dari daerah-daerah lain,” ujar Prabowo.

Jika tiap daerah bisa swasembada energi, lanjut Prabowo, Indonesia akan menghemat ratusan triliun karena tidak perlu mengimpor BBM dari luar negeri.

Tahun ini tiap tahun kita mengeluarkan peraturan triliun untuk impor BBM. Kalau kita bisa tanam kelapa sawit, tanam singkong, tanam serbuk pakai tenaga surya dan tenaga air, bayangkan berapa ratus triliun kita bisa hemat tiap tahun.

Seruan Penolakan Sawit di Papua dari Pemuda Katolik

Pemuda Katolik Komisariat Cabang Kabupaten Paniai berpikir sebaliknya dan meminta Presiden Prabowo menghentikan rencana membuka perusahaan kelapa sawit di tanah Papua.

Presiden mengundang enam gubernur, 42 bupati dan walikota seluruh tanah Papua serta 10 Anggota Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua di Istana Negara, Jakarta, Selasa (16/12).

Satu hal yang pasti adalah Papua bukan tanah kosong. Kami Pemuda Katolik Komisariat Cabang Kabupaten Paniai minta dihentikan dan tolak seluruh program kelapa sawit di tanah Papua. Kami tidak mau kehilangan hutan kami. Seluruh kepala daerah di Papua harus tolak program kepala sawit. Jangan bikin generasi Papua kehilangan masa depannya.

Pemuda Katolik Komisariat Cabang Kabupaten Paniai , secara konsisten menunjukkan sikap mendukung penolakan terhadap ekspansi perkebunan kelapa sawit di wilayah tersebut. Kami berpihak pada masyarakat adat dan pelestarian lingkungan hidup.

Penolakan ini didasari oleh kekhawatiran mendalam akan dampak ekologis, perampasan tanah adat, dan ancaman terhadap keberlanjutan hidup masyarakat adat Papua.

Masyarakat tanah Papua bisa hidup tanpa kelapa sawit, tetapi tidak bisa hidup tanpa hutan dan alam. Karena itu, Pemuda Katolik meminta Presiden jangan membawa program kepala sawit ke Papua tetapi ke daerah lain.

Kita belajar dari Aceh, Sumatra Utara dan Sumatera Barat baru saja. Pelajaran berharga untuk Bapak Presiden dan para anggota Kabinet Merah Putih agar jangan hancurkan Papua dengan program kelapa sawit. Sebagai Pemuda Katolik kami menolak tegas

Menurut Pemuda Katolik, bila dipaksakan pihaknya akan melakukan konsolidasi menduduki semua kantor di tanah Papua. Saat ini, masyarakat tanah Papua tidak membutuhkan kepala sawit namun pendidikan dan kesehatan gratis.

Saat ini banyak lahan hutan masyarakat adat dan lahan warga dicaplok oleh perusahaan kelapa sawit. Banyak nyawa manusia melayang karena mereka berjuang untuk tanah dan hutan tetapi mereka dibunuh, ditembak, dan dianiaya.

Pemuda Katolik mensorti, Proyek Strategis Nasional (PSN) di Merauke menyedot ribuan hektar hutan. Ujungnya, banyak masyarakat kehilangan tanah adatnya. Saat ini realisasi pengolahan hutan di Merauke dari target jangka pendek 40.000 hektar, 31.600 hektar telah berhasil diolah dan ditanami. Tersisa 8.400 hektar belum dikerjakan karena kondisi medan yang sulit.

Kami Pemuda Katolik minta semua semua program yang berencana menghancurkan hutan segera dihentikan karena orang Papua butuh hutan, alam dan mereka lebih banyak memperoleh rejeki hidup keluarga dari hutan dan tanah mereka. Kepala sawit tidak membawa manfaat tapi mudarat. Banyak orang di Keerom, Klamono Sorong sudah jadi korban. Mereka kehilangan lahan bertani karena hutan mereka habis.

Oleh karena itu, Pemuda Katolik Komisariat Cabang Kabupaten Paniai menegaskan menolak program kepala sawit di seluruh tanah Papua. Negara tidak boleh semena-mena merambah hutan Papua atas nama dan demi kepentingan kelompok kapitalis. Rakyat Papua tidak butuh program kelapa sawit namun butuh pendidikan dan kesehatan gratis serta insfratruktur yang merata.

Beberapa poin penting terkait sikap Pemuda Katolik Komisariat Cabang Kabupaten Paniai dan elemen Katolik lainnya di Papua meliputi:

1. Komitmen Menjaga Hutan Adat: Pemuda Katolik Papua telah menyatakan komitmennya untuk menjaga hutan dan tanah adat Papua dari ancaman industri ekstraktif, termasuk kelapa sawit.
2. Dukungan Pencabutan Izin: Organisasi ini mendukung langkah pemerintah daerah yang mencabut izin perusahaan kelapa sawit yang dinilai merugikan masyarakat dan lingkungan, seperti yang terjadi di Kabupaten Sorong.
3. Suara Kritis Kaum Awam dan Uskup: Penolakan ini juga disuarakan oleh kaum awam Katolik dan hierarki gereja. Baru-baru ini, Uskup Timika Mgr Bernardus Bofitwos Baru, OSA, mengecam keras rencana pemerintah pusat untuk memperluas kebun sawit di Papua, menyebutnya sebagai “proyek oligarki” yang membunuh rakyat. Umat Katolik Papua bahkan menyatakan lebih baik kehilangan agama daripada kehilangan tanah adat mereka.
4. Solidaritas dengan Masyarakat Adat: Sikap ini sejalan dengan perjuangan masyarakat adat, seperti Suku Awyu dan Marga Moro, yang menolak konversi hutan menjadi perkebunan sawit dan mengajukan gugatan hukum terhadap perusahaan terkait.
5. Peringatan Bencana Ekologis: Warga dan tokoh Katolik Papua khawatir bahwa ekspansi sawit akan membawa bencana ekologis seperti yang terjadi di Sumatera dan Kalimantan, yang ditandai dengan deforestasi dan kerusakan lingkungan parah.

Seruan Hati Masyarakat Adat Papua Ke Presiden Prabowo

Kebijakan Proyek Strategis Nasional (PSN) untuk perkebunan monokultur (sawit, tebu, singkong) dianggap sebagai ancaman, Bagi hutan adat dan masyarakat adat papua,dan bukan solusi, Pasalnya Program ini dinilai akan merusak ribuan hektare hutan adat papua, yang menjadi paru-paru dunia serta ancaman terhadap  Suaka marga Satwa asli Papua seperti burung cendrawasih, kasuari, dan  kuskus,  Nuri kepala hitam.

Pulau  papua yang identik dengan pulau surga ini adalah rumah bagi satwa endemik,dan rumah sumber kehidupan masyarakat adat pemilik hutan dan tanah  adat papua.

Namun Kebijakan program Nasional PSN oleh pemerintah melalui  Presiden  RI Prabowo Subianto, yang mana akan Mengubah hutan adat papua,menjadi lahan perkebunan Sawit, Tebu dan singkong hanya akan menimbulkan masalah baru dan penderitaan bagi Orang Asli Papua (OAP) yang bergantung pada hutan Adat,

Karena Hutan Adalah Identitas dan Rumah, baik manusia dan alam makhluk hidup di dalamnya, itu menggambarkan hubungan spiritual dan fisik yang erat dengan alam, hutan dan Manusia papua itu sendiri.

Hubungan harmonis antara manusia Hutan dan alam didalamnya adalah hal terpenting, Tuntutan Kebutuhan yang Sebenarnya Bukan perkebunan industri,sawit, tebu dan singkong yang merusak hutan dan alam, namun kebutuhan mendesak masyarakat Papua adalah pembangunan sumber daya manusia dan kesejahteraan sosial:

1. Pendidikan: Membutuhkan lebih banyak guru.
2. Kesehatan: Membutuhkan akses ke dokter dan layanan kesehatan.
3. Kemanusiaan: Membutuhkan pengakuan, perlindungan, penghormatan, dan “kasih sayang”, bukan eksploitasi Sumberdaya alam.

jika di Evaluasi berdasarkan asas Manfaat dari PSN, sawit, tebu  dan singkong, Tidak ada Manfaat bagi masyarakat adat papua, malah Saya menilai bahwa kekayaan alam Papua (tambang, minyak) selama ini telah diambil, namun masyarakat adat merasa belum mendapatkan manfaat yang setimpal, bahkan sering merasa “mengungsi di atas tanah sendiri.

Pernyataan ini adalah bentuk advokasi yang sangat penting,Surat Terbuka agar kita paham soal PNS, sawit, singkong dan Tebu di papua itutang tidak ada manfat bagi masyarakat adat papua serta hanya merusak hutan adat papua.

Kesimpulan

Secara keseluruhan, sikap Pemuda Katolik Komisariat Cabang Kabupaten Paniai dan komunitas Katolik di Papua sangat tegas menolak pembukaan lahan sawit baru dan mendukung perlindungan hak-hak masyarakat adat serta kelestarian lingkungan Papua.

Penulis oleh Ketua Pemuda Katolik Komisariat Cabang Kabupaten Paniai Selasa 23 Desember 2025

Loading

Facebook Comments Box