DETIKPAPUA.COM | NABIRE — Semangat memperkuat nasionalisme dan mempersiapkan generasi muda Papua Tengah mewarnai Seminar Wawasan Kebangsaan dan Pemberian Hadiah Lomba Menulis Esai dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Rabu, 19 Agustus 2026.
Kegiatan yang berlangsung di Aula RRI Nabire, Jalan Merdeka, Kabupaten Nabire, Papua Tengah, tersebut diselenggarakan Tim Caretaker DPC GAMKI Nabire bersama Barisan Merah Putih (BMP) Republik Indonesia dan diikuti sekitar 130 peserta, terutama pelajar SMA dan SMK.
Seminar mengusung tema “Semangat Kemerdekaan Membangun Generasi Papua Tengah yang Cerdas, Nasionalis, Kreatif, Berdaya Saing dan Berakhlak.”
Sejumlah tokoh dan pejabat turut hadir, di antaranya anggota DPR Provinsi Papua Tengah Fraksi PDI Perjuangan Peter Warobay, Danlanal Nabire Letkol Laut (P) Mario Marco Wainarisi, Sekjen DPP BMP RI-Papua Albert Ali Kabiay, Ketua DPD GAMKI Papua Tengah Anis Labene B.Sc., Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Nabire Dra. Dina Pidjer, M.M., serta unsur TNI dan organisasi kepemudaan.
Ketua DPC GAMKI Kabupaten Nabire sekaligus Ketua Panitia, Yusuf Sembiak, mengatakan kegiatan tersebut menjadi ruang bagi generasi muda untuk memperkuat kecintaan terhadap bangsa melalui gagasan, pemikiran dan karya.
Menurutnya, lomba menulis esai dan seminar kebangsaan tidak boleh berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi harus menjadi ruang belajar, berdiskusi, bertukar pikiran dan membangun semangat kebangsaan.
Sementara itu, Ketua DPD GAMKI Papua Tengah Anis Labene menegaskan bahwa generasi muda yang hadir merupakan calon pemimpin masa depan. Karena itu, kepemimpinan harus dipersiapkan sejak dini melalui pendidikan, organisasi, peningkatan kapasitas dan pengalaman.
“Jangan menunggu menjadi pemimpin baru kita belajar memimpin. Mulailah mempersiapkan diri sejak hari ini,” pesannya kepada para pelajar.
Anis juga mengajak pemuda Papua Tengah untuk tidak hanya menjadi penonton pembangunan, tetapi tampil sebagai pelaku pembangunan. Menurutnya, kolaborasi antara organisasi kepemudaan, pemerintah, TNI, tokoh masyarakat dan berbagai elemen lainnya perlu terus diperkuat untuk mempersiapkan generasi muda yang berkualitas.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Nabire, Dra. Dina Pidjer, M.M., saat membuka kegiatan secara resmi, menekankan pentingnya wawasan kebangsaan bagi generasi muda.
Ia mengatakan wawasan kebangsaan bukan sekadar menghafal Pancasila dan UUD 1945, melainkan bagaimana nilai-nilai tersebut diwujudkan dalam sikap dan tindakan sehari-hari.
“Perbedaan suku, agama, budaya, bahasa dan latar belakang bukan alasan untuk saling menjauh. Perbedaan justru merupakan kekuatan untuk membangun persatuan,” ujarnya.
Ia berharap para pelajar Nabire tumbuh menjadi generasi yang cerdas, nasionalis, kreatif, berdaya saing dan berakhlak serta mampu menjadi pemimpin yang membawa perubahan positif bagi daerah dan bangsa.
Dalam sesi seminar, Peter Warobay mengajak para pelajar mengenali jati diri, sejarah dan identitas kebangsaan.
Ia menyampaikan tiga pertanyaan sederhana yang menurutnya penting dijawab setiap generasi muda, yakni “Saya siapa, saya berada di mana, dan saya warga negara apa?”
Menurut Peter, seorang anak Papua harus bangga dengan identitas budaya dan asal-usulnya, tetapi pada saat yang sama juga tidak perlu malu mengakui dirinya sebagai bagian dari bangsa Indonesia.
“Jangan pernah malu mengatakan saya orang Papua dan saya orang Indonesia,” pesannya.
Ia juga mendorong para pelajar untuk berani bermimpi besar. Menurutnya, anak Papua memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi guru, pengusaha, anggota legislatif, pemimpin TNI-Polri, bahkan pemimpin nasional, sepanjang mempersiapkan diri dengan pendidikan, kerja keras dan integritas.
Sekjen DPP BMP RI-Papua, Albert Ali Kabiay, menyoroti pentingnya budaya membaca dan penggunaan teknologi secara positif.
Ia mengingatkan para pelajar agar tidak menjadikan telepon seluler hanya sebagai sarana hiburan, tetapi memanfaatkannya untuk belajar, mencari informasi, mengembangkan kreativitas, membangun usaha dan memperluas jaringan.
Menurutnya, setiap unggahan, komentar dan informasi yang dibagikan dapat berdampak terhadap diri sendiri maupun orang lain.
“Jangan mudah menyebarkan berita yang belum tentu benar, jangan mudah menghina orang lain, jangan menyebarkan fitnah dan jangan mudah terprovokasi,” pesannya.
Ia juga mendorong generasi muda Papua Tengah untuk menguasai keterampilan teknologi, bahasa, komunikasi, kewirausahaan dan kepemimpinan agar mampu menghadapi perubahan dunia kerja, termasuk perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Sementara itu, Anis Labene menekankan pentingnya keberanian generasi muda menghadapi rasisme dan diskriminasi.
Ia mengingatkan para pelajar bahwa ketika melanjutkan pendidikan ke luar daerah maupun luar negeri, mereka mungkin menghadapi lingkungan sosial yang berbeda.
Karena itu, generasi muda Papua Tengah harus mampu menjaga jati diri sekaligus menghargai keberagaman.
“Tidak ada tempat bagi rasisme. Tidak ada tempat bagi diskriminasi. Perbedaan bukan alasan untuk terpecah, tetapi menjadi kekuatan untuk membangun Indonesia,” tegasnya.
Dalam sesi diskusi, para pelajar juga mendapatkan kesempatan menyampaikan pertanyaan mengenai keterampilan yang perlu dikuasai generasi muda serta cara menghadapi rasisme dan diskriminasi.
Para narasumber mendorong pelajar untuk mengembangkan keterampilan sesuai potensi daerah, seperti pertanian, kelautan, kehutanan, teknologi informasi, pengelolaan sumber daya dan kewirausahaan.
Selain seminar, kegiatan juga dirangkaikan dengan pengumuman hasil lomba menulis esai.
Tegar Kapisa berhasil meraih Juara I melalui karya berjudul “Dari Tanah Papua Tengah untuk Indonesia” dengan tema “Ekonomi Berbasis Kearifan Lokal untuk Mewujudkan Kemandirian Papua Tengah.”
Dalam karyanya, Tegar mengangkat pentingnya membangun ekonomi Papua Tengah dengan memadukan kearifan lokal, pendidikan, teknologi, kewirausahaan dan pengelolaan potensi daerah.
Ia menekankan bahwa generasi muda Papua Tengah harus menjadi pelaku pembangunan, bukan sekadar penerima manfaat.
Sementara Juara II diraih Yustus Kuayo dan Angelina Gobai. Juara III diraih Daniel Yemo dan Viola.
Untuk kategori harapan, Harapan I diraih Fidelia Sanda Lembang dan Harapan II Immanuel Rafalino Maken. Sementara peringkat VI hingga X masing-masing diraih Yohanes Bogpa dan Anselmus Mote, Angel Benedikta Aboseren, Salsabila Tanti Ramadhani, Chelsi Vania Sarah Marani, serta Yulianus Tebai dan Maria Adii.
Melalui kegiatan tersebut, GAMKI dan BMP berharap semangat nasionalisme, literasi, kepemimpinan, kreativitas dan kecintaan terhadap NKRI terus tumbuh di kalangan generasi muda Papua Tengah.
Pembinaan wawasan kebangsaan juga dinilai perlu dilakukan secara berkelanjutan dengan melibatkan pemerintah daerah, TNI, Polri, organisasi kepemudaan, tokoh agama, tokoh masyarakat dan pihak sekolah.
Dengan demikian, generasi muda Papua Tengah diharapkan tidak hanya memiliki kecerdasan akademik, tetapi juga karakter, integritas, keterampilan dan keberanian untuk mengambil bagian dalam pembangunan daerah maupun nasional.(*)
![]()

More Stories
Samuel Sauwyar Tokoh Intelektual Sarmi Soroti Penggunaan Dana Otsus di Kabupaten Sarmi
Okto Sineri: Data OAP Jadi Kunci Perencanaan Pembangunan dan Ketepatan Dana Otsus
Pemkab Maybrat dan SKALA Papua Barat Daya Dorong Percepatan Pendataan OAP