17 Agustus 2026

DETIK PAPUA

Berita Papua Terkini

Petani dan Staf Dinas Pertanian Maybrat Antusias Ikuti Pelatihan Pembuatan Biosaka.

DETIKPAPUA.COM: Maybrat – Petani bersama staf Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Maybrat antusias mengikuti pelatihan teknik pembuatan Elisitor Biosaka yang diselenggarakan oleh Dinas Pangan dan Pertanian Provinsi Papua Barat Daya di Aula Kantor Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Maybrat, Kamis (25/6/2026).

Kegiatan yang berlangsung sehari penuh ini diawali dengan sosialisasi mengenai tujuan, manfaat, teknik pembuatan, hingga cara pengaplikasian Elisitor Biosaka bagi tanaman. Materi disampaikan oleh Kepala Laboratorium Pengamatan Hama dan Penyakit (LPHP) UPTD Dinas Pangan dan Pertanian Provinsi Papua Barat Daya, Sutardi, SP., MPD. Sementara kegiatan dibuka oleh Kepala Seksi Sarana dan Prasarana Dinas Pangan dan Pertanian Provinsi Papua Barat Daya, Diana Kambu, yang hadir mewakili Kepala Dinas Pangan dan Pertanian Papua Barat Daya.

Dalam sambutannya, Diana Kambu menyampaikan permohonan maaf dari Kepala Dinas Pangan dan Pertanian Papua Barat Daya yang berhalangan hadir karena sedang mengikuti kegiatan Pekan Nasional (PENAS) Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) di Gorontalo.

Ia mengatakan sektor pertanian memiliki peran penting dalam mendukung ketahanan pangan, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta menjaga keberlanjutan lingkungan. Namun dalam praktik budidaya tanaman, petani masih menghadapi berbagai tantangan, terutama serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) seperti hama, penyakit, dan gulma yang dapat menurunkan hasil produksi.

“Selama ini penggunaan pestisida kimia sering menjadi pilihan utama dalam pengendalian OPT. Akan tetapi penggunaan yang berlebihan dapat menimbulkan berbagai dampak negatif, seperti pencemaran lingkungan, menurunnya kesuburan tanah, resistensi hama, serta risiko terhadap kesehatan manusia. Oleh karena itu diperlukan alternatif pengendalian yang lebih ramah lingkungan, aman, dan berkelanjutan,” ujar Diana.

Menurutnya, melalui sosialisasi tersebut peserta diperkenalkan pada pemanfaatan bahan-bahan alami yang tersedia di sekitar lingkungan sebagai alternatif pengendalian hama dan penyakit tanaman. Selain mudah diperoleh dan relatif murah, penggunaan bahan alami juga mendukung penerapan pertanian berkelanjutan dan mengurangi ketergantungan terhadap bahan kimia sintetis.
“Melalui kegiatan sosialisasi ini saya berharap peserta dapat mengikuti dan memahami materi dengan sungguh-sungguh serta dapat menerapkannya masing-masing di tengah masyarakat,” katanya.

Pada kesempatan yang sama, Sutardi menjelaskan Elisitor Nusantara Biosaka merupakan inovasi yang digagas oleh Muhammad Ansar dari Blitar sejak tahun 2006 dan terus dikembangkan hingga saat ini. Menurutnya, Biosaka memiliki berbagai manfaat bagi sektor pertanian, mulai dari meningkatkan pertumbuhan tanaman hingga mengurangi penggunaan pupuk kimia.

“Biosaka ini salah satu manfaatnya untuk meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Selain itu juga dapat memperbaiki struktur maupun tekstur tanah serta mengurangi kebutuhan pupuk hingga 70 persen,” jelas Sutardi.
Ia menambahkan, Biosaka juga mampu membantu menekan serangan hama dan penyakit pada tanaman pangan maupun hortikultura.

“Yang terakhir adalah gratis, karena bahannya Tuhan sudah siapkan melalui rumput-rumputan dan tumbuhan yang ada di sekitar kita. Selama ini banyak yang menganggap rumput sebagai tanaman pengganggu, padahal memiliki potensi besar untuk meningkatkan produksi pertanian melalui pembuatan Elisitor Nusantara Biosaka,” ujarnya.

Sutardi menjelaskan bahan dasar Biosaka berasal dari tanaman atau rumput yang tumbuh sehat, terutama di daerah ekstrem. Minimal digunakan lima jenis tanaman dengan jumlah sekitar satu genggam tangan atau kurang lebih 250 gram.

“Pilih daun tanaman yang sehat, sempurna dan paripurna. Setelah itu diremas dalam sekitar lima liter air selama kurang lebih 20 menit hingga homogen. Jika sudah homogen atau koheren, maka Biosaka sudah siap digunakan,” terangnya.

Untuk pengaplikasian pada tanaman pangan, Biosaka dapat digunakan dengan dosis rata-rata 40 mililiter per tangki semprot. Aplikasi pertama dilakukan 10 hari setelah tanam, kemudian dilanjutkan secara berkala hingga tujuh kali aplikasi. Sementara untuk tanaman sayuran, dosis yang digunakan berkisar antara 5 hingga 25 mililiter per tangki.

“Kami juga sudah menyiapkan brosur dan panduan bagi peserta sehingga dapat dipraktikkan langsung oleh para petani di Kabupaten Maybrat,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Maybrat, Alek Nelson Iek, S.P., M.Tr.Ap., M.Ap., yang diwakili Kepala Bidang Pertanian, Zarles Semunya, menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan kegiatan tersebut.

Ia berharap pemerintah provinsi dapat memberikan pendampingan dan bimbingan teknis secara berkelanjutan kepada para petani di Kabupaten Maybrat.
Menurut Zarles, Kabupaten Maybrat memiliki potensi pertanian yang besar karena kondisi tanahnya yang subur dan kaya kandungan fosfat.

“Tanah di Maybrat sebenarnya sudah mengandung fosfat yang tinggi. Biosaka ini bisa menjadi kombinasi yang melengkapi unsur-unsur lain sehingga hasil pertanian dapat lebih optimal,” ujarnya.

Ia juga menilai masyarakat Maybrat memiliki semangat tinggi untuk berkembang di sektor pertanian apabila mendapat dukungan dan pembinaan yang tepat.

“Orang Maybrat punya semangat untuk bersaing dalam berbagai bidang, termasuk pertanian. Tinggal dipoles dan didukung,” katanya.

Zarles mencontohkan sejumlah program pelatihan yang sebelumnya berhasil dikembangkan masyarakat, seperti produksi kacang sangrai hingga pengolahan sereh wangi menjadi sabun mandi dan minyak gosok.

“Kalau pelatihan-pelatihan sebelumnya saja bisa berhasil, saya yakin inovasi Biosaka ini juga dapat diterapkan dengan baik oleh petani Maybrat,” ujarnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa petani yang mengikuti kegiatan tersebut merupakan petani-petani binaan yang selama ini aktif mendukung program pertanian di Kabupaten Maybrat. Karena keterbatasan peserta, hanya perwakilan kelompok tani yang dihadirkan dalam kegiatan tersebut.

Oleh sebab itu, ia berharap ke depan kegiatan serupa dapat dilaksanakan dalam skala yang lebih luas sehingga semakin banyak petani yang memperoleh pengetahuan dan keterampilan mengenai pemanfaatan Elisitor Biosaka.

Kegiatan kemudian ditutup. Para peserta tampak antusias mengikuti seluruh rangkaian pelatihan hingga berhasil membuat cairan Biosaka yang nantinya dapat diaplikasikan pada tanaman mereka masing-masing.

Pewarta: Charles Fatie

Loading

Facebook Comments Box