Persinggahan Hidup “Dalam” Menuntut Ilmu (1/2)
*Liborius Madai
Aku adalah lelaki yang hidup di sebuah dusun yang jauh terpeleh dari gunung Yabai. Kampungku. Dusun Dikiya, diantara banyak perbukitan yang menjulan tinggi, di bawah kaki gunung Weyland. Distirik Dipa, kabupaten Nabire. Aku besal dari keluarga yang sederhan (tak perlu di ceritakan lagi) latar belakanganku.
Lelaki dan wanita itu adalah pahlawan dalam kehidupanku. Aku bisa bernapas, tumbuh dan berkembang seperti saat ini semua karena pengorbanannya.Tanpa beliau aku mungkin bukan siapa-siapa.
Aku dilahirkan dari keluarga yang sederhana. Anak paling terakhir bungsu. Ibuku meninggal setelah ia melahirkanku genap enam bulan usiakku. Kala itu. Saat saya masih kecil.
Ayahku bekerja sebagai pegawai pelengkap rumah tangga sebagai sudah jadi suami-istri. Ayah lah yang mengurus semua pelengkap rumah tangga. Ayah yang terpenuhi sebagai tanggung jawab kewajiban sebagai seorang istri tuk mengurusi anak-anaknya.
Aku terlahir sebagai anak bungsu dari lima bersaudara. Mereka adalah (maaf tak sebutin satu persatu). Kehidupan yang taat patut mensyukuri dan memberikan kasih sayang hingga keceriaan terbawah kesederhanaan. Begitulah kehidupan dalam keluarga dan tentunya menambah warna dalam kehidupanku.
Singkat cerita. Semenjak kami anak-anakya telah beranjak dewasa semuanya berubah, berubah sangat.
Empat tahun tiga bulan di Dikiya.
***
Suatu hari. Pada hari Kamis tanggal 22 Juni 2004. Aku pergi berkunjung ke Topo. Pagi menjelang – sinar-sinar lembut matahari memancarkan sinarnya dari celah atapnya. Aku terbangun pulas dari SD selimut dan membangunkanku dari sebuah mimpi.
Aku selalu berharap semalam hanya mimpi, benar! hanya mimpi.
Keluarku pagi. Jejak kakiku, Tinggalkan dusun Dikiya. Aku berangkat dari Dikiya tepat pada 06: 30-an ke Topo Uwapa pukul 10.00 esok pagi dan sampai di Topo Uwapa satu hari semalaman di tengah jalan. Perjalanan Dikiya ke Uwapa. Masih banyak gunung yang melewati, bahkan sungai di tengah jalan. Perjalanannya gapai, pece.
Sejak aku berusia tujuh tahun umurku. Aku putuskan tuk sangat merantau ke Topo Distrik Uwapa. Aku masuk Sekolah Dasar SD Negeri Margajaya Sp 1 Topo Uwapa ( 22/06/04) lalu.
“Usai kian berlalu.?”
***
Hari sudah malam. Malam itu. Aku setelah merapikan dasi sebagai sentuhan terakhir dan siap untuk besok pagi berangkat kesekolah. Harinya pun usai sudah pagi.
Pagi-pagi aku diterima sebagai murid di Sekolah Dasar berangkat ke SD Margajaya Uwapa. Aku di terima langsung kelas empat. Karena umur saya sudah termakan oleh usianya. Usiaku 8 tahun.
Semenjak aku tinggal di Topo Uwapa, bersama dengan kaka Ernes. Kaka nomor keduanya. Ia serpertinya kadang baik dan kadang pemarah, bahkan jahatnya cara didik ketiga anaknya pun sungguh tegas luar biasa.
Singkat cerita. Setelah hampir 3 tahun 2010? Aku lusus Sekolah Dasar SD. Setelah lulus SD Negeri margajaya Sp 1 Topo Uwapa dan melanjutkan Sekolah Mengenah Pertama (SMP) SMP N 2 Gamei Jaya SP3-4 Topo Uwapa. Pada tahun 2013. Aku di nyatakan lolos – tamat Sekolah Mengenah Pertama dan lanjut Sekolah Mengenah Atas SMA. Aku daftarkan lanjut kemudian aku SMA ( Sekolah Mengenah Atas) SMA Negeri 1 Plus KPG Nabire.
***
Setelah lulus SMA akupun mengikuti bimbel di salah satu bimbingan belajar selama sebulan di Setia Budi. Aku disana tinggal dirumah Yunita waktu SMA karena waktu itu aku berteman baik dengan anaknya yang bernama Siska Bunai.
Tok tok tok … suara pintu terdengar.
“Sepertinya ada tamu,” gumamku sembari berjalan ke arah pintu.
Suara pintu tiba-tiba terbuka sebelum aku membukanya. Sontak aku terkejut dan hampir saja jantungku hilang entah kemana. Dan ternyata yang datang itu adalah Mamanya Siska.
“Eh, Mama. Kok tumben Mama datang pas jam kerja? Ada apa Mama?” tanyaku penuh rasa khawatir.
“Mama. Kok Mama datang tiba-tiba sih? Kok Mama tak bilang-bilang kalau mau datang? Biasanya kan Mama memberitahu lebih dulu, “ batingku khawatir atas kedatangan Mamanya dengan tiba-tiba.
“Mama senang, Mama bangga sama kalian berdua. Kalian hebat,” kata Mama sembari memberikan amplop kuning yang sedang dipegangnya.
Siapa Siska? Siska teman sekelas. Batingku, ternyata itu Namanya Yunita.
“Ini apa, Mama?” kataku penuh tanya dan membuatku semakin bingung. Dan Siska pun ikut kebingungan. Siska yang ada berdampingan dengan Mama.
“Buka sayang, buka. Biar lebih jelas” katanya meyakinkan aku dan Siska.
“Tanpa berpikir panjang kubuka amplop itu dan ternyata. Siska, Mama. Aku lulus. Aku lulus, yesss!” teriakku sambil tertawa lepas.
Tanpa aku sadari ternyata air mata yang dulu sering mengalir kini mengalir kembali. Tapi beda dengan yang dulu, kali ini mengalir karena kebahagiaan. Bukan yang lain.
“Yess! Aku juga lulus,” kataku sambil memeluk Ibunya Yunita.
Keesokan harinya tepat pukul 04:00 dini hari aku bangun dan segera beres-beres. Karena aku ingin pulang keluar tempo dan pergi kerumah kepada kaka Ernes, “Alias wakilku.
“Siska,? Sahabat sekelas.
Drakk bunyi lemari membuat Siska terbangun dari tidurnya.
“Libo lagi ngapain?” Dengan mata setengah sadar.
“Ini lagi beres-beres Siska, nanti aku mau pulang kerumah nih, gak sabar kasih tau papa sama kakaku.” Kataku dengan senyum lebar.
Tiba-tiba Siska memelukku sambil menangis tanpa henti. Siska adalah putri Deiyai, berambut Kode dan elok hitam manis.
“Sis, ko kenapa?“ Tanyaku.Siska hanya menggeleng kepalanya namun tetap menangis, hingga membuatku semakin panik.
“Sis ko kenapa? Kamu ada masalah?” Tanyaku kembali.
“Aku gak apa-apa Libex. Jawabnya Yun.”
“Tapi kamu kok nangis? Tanyaku balik.
“Aku cuman takut, jawabnya lagi.”
“Takut kenapa sih Sis? Tanyaku yang semakin membuatku bingung.
Aku takut nanti kalau ko udah berangkat ke Pontianak ko lupa samaku. Ko pasti bakalan menemukan teman baru kamu disana. “Kata Siska sambil menangis.”
Tenang aja Sis, biarpun sa kuliah di Pontianak dan ko di Nabire, ko tetap sahabatku satu-satunya kok. Tak ada yang lain. “Kataku meyakinkan Sis.”
Akhirnya kami pun berpelukan sambil menangis. Demi teman dan sahabat semasa Sekolah Mengenah Atas.
Waktu terus berjalan dan tak terasa bahwa jam telah menunjukkan pukul (08:00 WIT). Aku pun pamit sama Sis dan Mamanya.
Pulang ke rumah. Rumah Sang kaka di Topo.
Setibanya dirumaah, Topo Uwapa, aku pun langsung berlari keruang tamu sama Kaka Mama mantuku yang sedang asik nonton film di Televisi.
Libo, kok kamu pulang nak? “Kata Sang kaka sambil bertanya kepadaku.”
Kak, Libo di nyatakan lolos. Tembus. “Jawabku.”
Lolos apa? Kok keliatannya senang. “Jawab Sang kaka dengan muka yang penuh khawatir.
Liborius diterima di IKIP- PGRI Pontianak, Kak!! Libo bakalan kuliah di Jawa. Sambil menyerahkan amplop kuning itu ke tangan Kaka Ernes.
Setelah membukanya papa sama mama langsung memelukku dan tersenyum bahagia.
4 hari 3 Malam di Topo Uwapa, bersama kaka Ernes
***
“Esok hari?”
Pagi sekali, aku berdiri tegap di depan pondok pinang. Tempat untuk jual piang oleh Mama-mama Topo. Sambil menunggu jemputan dari teman Jebulom Magai, alias darah. Usai perbincangan dengan abang Jebulon, hingga di ruang tunggu, bandara Nabire.
Kota seribu kenangan. Usai selamat tinggal. Tiupan angin, pepohonan di sekitar bukit Meriam menyapa berjejer dengan mendominasi sepertinya hiasan lukisan untuk, mengucapkan selamat. Seakan Siska hunyian ikut senyum manis melambai sabuk RASTA halus tangannya.
Setelah satu jam kemudian. Pesawat (Garuda Indonesia) rentah lepas di Bandara Nabire, Tujuan Pontianak (Bandara Supadio Internasional ) kota yang dikenal sebagai kota khatulistiwa karena dilalui garis khatulistiwa, dikenal pula sebagi sebutan “khun Tien” nama yang di berikan oleh etnis tionghoa pontianak.
Bandara Supadio Internasional Indah. Tempat yang nyaman bagi kaum mudah, apa lagi setiap malam Minggu.
Seusainya tibah di sana. Sebelum dari Nabire aku kontak suara dengan laki-laki. Abang alias Sil Iyai.
Hallo?” Adik. Ucap Silfester, “vewat penelepon?”
“Ya, kak. Adik sudah tibah di bandara ini? Jemput adik, Jawabku.
Ok, baik. Adik, tunggu di jalan masuk lorong, berdiri. eee ko pakai baju warna apa? “Ucapnya Silfester.”
Ok kaka. Sa pakai baju kemeja berwarna hitam abu-abu. Jawabku.
Silfester Iyai adalah salah satu senioritas Mahasiswa Papua tamatan SMA (2015) yang kini kuliah di Universitas Tanjung Pura, semester 8 genap. Fakultas Jurusan Akutansi Bisnis Ekonomi.
Beberapa menit kemudian!
Sesampai di Bandara. Silfester di jemput. Perjalanan kami berdua di Pontianak lebih nyaman. Kami kemudian menuju arah kontrakannya, kotrakan biaya mandiri oleh Abang Silfester tempat dimana aku menginap.
Perjalanan dari bandara Supadio menuju kontrak cukup padat. Kami akhirnya sampai di pukul 13.37 cukup tepat saat kami mengendarai roda dua milik Silfester.
Usai sampe pada kontrakan. Jln. Sederhana (Gg ll ) Pontianak.
Jadi tak perlu menunggu untuk masuk ke kamar. Aku dan Sil tinggal satu kontrakan.
Aku yang kelelahan karena kemarin di atas Garuda Indonesia Nabire ke Pontianak hingga larut memutuskan untuk tidur. Kaka Silfester mengajak ku untuk minum jus di sebuah kedai yang berdekorasi lucu didekat kontrakan, nama kedai tersebut adalah Kynd.
Terima kasih. Kaka. Sudah siapkan makanan.
Pukul (16:00 WIB) menyaksikan matahari terbenam di atas jembatan raksasa sungai kapuas tepatnya persimpanan sungai yang besar, pada umumnya seluruh Indonesia, dan sungai landak kapuas kecil.
Setelah menyaksikan matahari terbenam kami kembali ke rumah kontrakan tuk makan malam lalu beristirahat.
Keesokan harinya kaka Silfester di antar ke kampus IKIP PGRI Pontianak. Dengan lengkapi baju (putih) celana/ rok ( hitam) seperti lautan di halaman Audiotorium IKIP PGRI Kalimantan Barat, kampus ramai Mahasiswa baru. Mahasiswa asal Dayak, Papua.
Di kampus! Kemeriahan suasana awal awal mulainya Ospek
Ospek mulai hingga pada akhirnya Liborius Madai merasa malu karena ini hari dan baru pertama kali tahapan penyesuaian karakter, bahasa bahkan bergaul jenjangan kuliah.
Hari berganti bulan, bulan berganti tahun yang terlewati tak terasa. Hingga kini, semua berlalu, kiang berganti 3 tahun ini adalah seperti tiga hari tanpa terbayang di sudut kota khatulistiwa.
Dari tahun ini, (tanggal 6 November 2020) Aku masuk KKN/atau Magang 3 Di SMP Negeri 09 Pontianak Kota.
Hari ini, Dosen prodi magan bimbingan dan konseling telah memalukan kegiatan sebagai Mahasiswa Magan ke-3 di sekolah SMP N 09 Pontianak kota yang di mulai pada September (11/20) pada smester ganjil……di nyatakan lolos / tidak dengan nilai berapa? Yang perlu di tanyakan dalam menghadapinya, besok.
Apakah? Akan aku dapatkan dengan prestasi nilai A/ B bahkan C dan D ?”
Mandiri bukan sekedar kopi yang di kasih orang untuk ngopi dengan seenaknya namun, belajar adalah salah satu gudang di ruang ilmu berbagi yang bisa mengurasi maling secukupnya sebagian tuangkan kemori otak seseorang. Semoga sukses, sisa perjuangan jenjang masa kuliahnya.
Genap enam bulan sudah kami bertiga berada di Desa Pelita Indah perjuangan kami tak sia-sia, semoga berhasil untuk kembali ke kampung halaman Dikiya. Berkat semangat dan kerja keras terinspirasi bagiku, hidup mandiri mampu melakukan itu semua. Rasa cinta untuk menuai di gudang memori otak.
Disini aku bakalan nulis sebuah cerita yang cukup singkat. Kenapa aku bakalan nulis cerita singkat ini karena cerita ini nyata dan bikin aku mandiri pula bakal untuk berbagi.
Tekun awal yang sukses.
Burung berkicauan, di antara hempasan angin gelombang yang tinggi menerpa pucak Weyland di bawah kaki gunung Dikiya. Nama ku (Liborius Madai) aku hanyalah anak seorang miskin, yang jauh dari kemewahan. Penghasilan ayahku tak terlalu tinggi, tapi kedua orangtua ku tetap berusaha menyuruh aku sekolah.
Sejak itu. Sejak SD aku didik untuk belajar, jadi tak heran jika aku sering juara kelas, setelah lulus SD, orangtua ku berhasil menyekolah kan aku di SD,Negeri margajaya SP 1 Topo Uwapa
Semangat belajarku meningkat sejak SD, itu berkat dukungan orangtua ku, dan semenjak SD (Sekolah Dasar) ayah mengajarku berdebat menurut akal sehat, dan pada saat itulah aku tertarik di dunia pendidikan , yaitu menjadi seorang (Guru). Aku tau cita-cita menjadi seorang guru sangatlah berat, tapi itulah mimpi besarku yang ingin aku capai.
Setamatnya di sekolah dasar aku melanjutkan sekolah menengah atas di Nabire ( SMA Negeri 1 Plus KPG Nabire) Sangat beruntung aku mendapat ilmu dari kota berkat prestasiku, tak sia-sia pengorbananku, dan aku sangat bangga bisa meringankan beban keempat sodaraku.
Kian lama, sejak dini ayahku tak bisa kerja, sedang mamaku telah di pulang (dipanggil oleh Sang Ilahi).
Pemuda yang baik adalah pemuda yang mampu mengatasi masalahnya sendiri, dan mampu membawa kehidupanya lebih baik, lewat kerja kerasnya sendiri, kamu lihat betapa banyak anak orang kaya yang berpoya-poya dengan harta orangtuanya pemuda semacam ini adalah pemuda yang pemalas, dilihat dari materi memang mereka bagus, tapi kalu dilihat dari usahanya sendiri sebenarnya mereka nol, tak ada apa-apanya.
Mendengar kata sang ayah hati ku semakin membara penuh semangat, aku bertekat akan mengejar mimpi ku menjadi seorang Guru, Puji Tuhan aku diteriam kuliah di aku masuk di Kampus IKIP PGRI Pontianak (Jurusan Pendidikan Guru Program Studi Bimbingan dan Konseling) – BK bidang guru, lewat ketekunanku berorganisasi dan belajar, akhirnya aku bisa mengejar mimipiku, dan aku berkata kepada kaka ku, “kak ini janji ku kepadamu, aku berhasil menjadi pemuda yang ayah katakan, aku berhasil lewat usaha ku sendiri” Terima kasih Tuhan. Bersambung. (*)
)* Penulis adalah Mahasiswa Universitas IKIP PGRI Pontianak Fakultas Ilmu Pendidikan Bimbingan dan Konseling Kota Studi Kalimantan Barat
![]()

More Stories
Pemkab Jayawijaya Gelar Pelatihan Wirausaha, Dorong Kemandirian Ekonomi Pemuda Lokal
Lintas OPD Maybrat Ikuti Bimtek Sistem Data Pangan, Dukung Program MAPAN
OPINI | “Masuk Gampang, Keluar Gampang” Masih Sulit Dirasakan Warga Fakfak