DETIKPAPUA.COM : Jayapura – Theo Hesegem, Direktur Yayasan Keadilan dan Keutuhan Manusia Papua, menegaskan bahwa penyerahan simbol keamanan berupa Alkitab dan Bendera Merah Putih kepada masyarakat Yuguru telah kehilangan makna, menyusul pelanggaran HAM yang terjadi.
Hal ini dikatakan Theo Hesegem,Jumat (25/4/25).
Theo Hesegem, aktivis HAM Papua, menyampaikan rasa kecewanya terhadap peristiwa yang dialami masyarakat Distrik Yuguru. Penyerahan Alkitab dan Bendera Merah Putih oleh Pangkostrad Wilayah III Timika, yang awalnya diharapkan menjadi simbol jaminan keamanan, justru diikuti dengan kasus penculikan, penyiksaan, pembunuhan, dan mutilasi terhadap Abral Wandikbo.
Dalam pesan tertulis, Theo mengatakan, “Simbol seperti Alkitab tidak seharusnya diperlakukan sebagai alat formalitas belaka. Alkitab adalah Firman Tuhan, bukan sekadar buku biasa, dan penggunaannya harus mencerminkan nilai-nilai suci dan penghormatan terhadap kemanusiaan.”tandasnya.
Theo juga mengkritik tindakan aparat yang, menurutnya, bertentangan dengan prinsip penegakan HAM yang telah diajarkan kepada para prajurit.
Ia menegaskan, pendekatan humanis kepada masyarakat Papua tidak boleh menjadi strategi formalitas, tetapi harus dilakukan dengan tulus dan konsisten.
Masyarakat Yuguru, yang sebelumnya dikenal sebagai daerah aman, kini diliputi rasa takut setelah serangkaian kejadian tragis. Ironisnya, masyarakat Yuguru yang berjasa dalam pembebasan pilot Susi Air tanpa kekerasan, kini merasa tidak dilindungi sepenuhnya.
Theo menyimpulkan dengan harapan agar aparat keamanan lebih serius dalam menjaga amanah jaminan keamanan bagi masyarakat sipil.
“Masyarakat harus dihormati dan dilindungi. Simbol-simbol seperti Alkitab dan bendera harus memiliki arti nyata, bukan hanya formalitas,”tutupnya. (AW)
![]()

More Stories
Pemkab Jayawijaya Gelar Pelatihan Wirausaha, Dorong Kemandirian Ekonomi Pemuda Lokal
Lintas OPD Maybrat Ikuti Bimtek Sistem Data Pangan, Dukung Program MAPAN
Ferdy Kerryanto Wakili Demokrat Fakfak di Bimteknas Nasional