19 April 2026

DETIK PAPUA

Berita Papua Terkini

 Pengaruh Global akan Mempengaruhi Harga BBM dan Ekonomi, Disnaker Perindang: Masyarakat Kembali Hidupi Wen, Wam, Wene

Detikpapua.com : Wamena – Konflik geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran mulai mengguncang perekonomian dunia. Dampaknya kini terasa di Indonesia, dengan harga bahan bakar minyak (BBM) di Jakarta resmi naik sejak awal Maret 2026, serta sejumlah komoditas pangan di pasar mengalami lonjakan harga. Kepala Dinas Disnaker Perindang Jayawijaya, Lekius Yikwa, menegaskan bahwa masyarakat Papua Pegunungan harus bersiap menghadapi situasi ini dengan kembali menghidupi kebun sebagai sumber ketahanan ekonomi.

“Harga pelayanan BBM ke depan akan terpengaruh, karena dunia sekarang goyang. Perang antara Amerika, Israel, dan Iran pasti berdampak pada ekonomi dunia. Harga BBM akan naik, dan ekonomi pasar ikut berubah,” ujarnya Lakius YikwaKepala Dinas Dinas Tenaga Kerja, Perindustrian, dan Perdagangan (Disnakerindag) di Wamena, Selasa (10/3).

Kenaikan Harga BBM di Jakarta
Sebagai barometer nasional, Jakarta mencatat kenaikan harga BBM sejak 1 Maret 2026,

– Pertamax (RON 92): Rp12.300/liter (sebelumnya Rp11.800/liter)
– Pertamax Green (RON 95): Rp12.900/liter (sebelumnya Rp12.450/liter)
– Pertamax Turbo (RON 98): Rp13.100/liter (sebelumnya Rp12.700/liter)

Dampak ke Harga Pangan

Selain BBM, sejumlah kebutuhan pokok di pasar Jakarta juga ikut naik:
– Minyak goreng “Minyak Kita”: Rp17.254/kg (naik dari Rp17.000/kg)
– Cabai rawit hijau: Rp59.175/kg (naik Rp413)
– Bawang putih: Rp42.530/kg (naik Rp18)
– Daging sapi: turun menjadi Rp133.000/kg

Sebagai Solusi Untuk Masyarakat Jayawijaya, Lekius Yikwa mengatakan,  pentingnya kembali ke kebun sebagai jalan keluar menghadapi krisis.
“Perhatian bagi kami sebagai masyarakat Jayawijaya adalah kembali bekerja di kebun. Wen, Wam, dan Wene menjadi solusi untuk bertahan hidup dalam situasi ini. Filosofi orang Balim yang diwariskan leluhur perlu kita perkuat dan hidupkan,” tegasnya.

Menurutnya, pemulihan ekonomi nasional akibat perang atau situasi global membutuhkan waktu lama. Karena itu, masyarakat diajak kembali ke kebun untuk menjaga ketahanan pangan keluarga. (AW).

Loading

Facebook Comments Box