DETIKPAPUA.COM | Maybrat – Suasana penuh sukacita dan nuansa kekeluargaan mewarnai prosesi penyambutan peserta Koinonia Balasan Pelayanan Wanita (Pelwata) dari Jemaat Gereja Protestan Maluku (GPM) Itawaka saat tiba di Kampung Susumuk, Distrik Aifat, Kabupaten Maybrat, Sabtu (18/7/2026).
Rombongan disambut hangat oleh Persekutuan Wanita (PW) Jemaat GKI Emaus Susumuk melalui tarian adat dan nyanyian penyambutan. Kehadiran para tamu menjadi momen bersejarah dalam mempererat hubungan persaudaraan antarjemaat yang telah terjalin sejak beberapa tahun lalu.
Rombongan dipimpin Ketua Majelis Jemaat GPM Itawaka, Pendeta Jei Thomas Siwabesi, bersama sejumlah pengurus inti jemaat. Setibanya di lokasi, mereka dikalungkan manik-manik, noken, serta mahkota tradisional yang terbuat dari bahan-bahan alam sebagai simbol penghormatan dan penerimaan secara adat.
Usai prosesi penyambutan, rombongan diarak dengan tarian tradisional menuju Gereja GKI Emaus Susumuk untuk mengikuti ibadah pembukaan Koinonia Balasan. Kegiatan tersebut dijadwalkan berlangsung selama satu minggu.
Ibadah pembukaan dipimpin Pendeta Evata Kocuwer dan dihadiri Ketua Klasis GKI Aifat Siprianus Assem, Wakil Ketua Klasis Agustinus Saa, para pelayan gereja, serta seluruh jemaat setempat.
Ketua Panitia Koinonia sekaligus mewakili PW GKI Jemaat Emaus Susumuk, Lince Atanay, menyampaikan apresiasi atas kehadiran Pelwata GPM Itawaka yang kembali mengunjungi Jemaat GKI Emaus Susumuk dalam rangka kunjungan balasan.
“Kami menyampaikan terima kasih kepada Pelwata Jemaat GPM Itawaka yang hari ini datang melakukan Koinonia Balasan. Tahun 2012 kami lebih dahulu mengunjungi Jemaat GPM Itawaka, dan tahun ini mereka datang membalas kunjungan persaudaraan itu. Semoga seluruh rangkaian kegiatan yang akan kami lakukan bersama dapat memuliakan nama Tuhan,” ujarnya.
Lince menjelaskan, Koinonia Balasan merupakan wadah saling berbagi pengalaman pelayanan, pengetahuan, budaya, dan keterampilan antara perempuan gereja di Papua dan Maluku.
Selama sepekan, peserta akan mengikuti berbagai kegiatan, mulai dari pelatihan mengolah hasil pangan lokal seperti ubi-ubian, kacang-kacangan dan sagu menjadi berbagai produk konsumsi rumah tangga, hingga keterampilan merajut noken, menganyam koba-koba, serta memanfaatkan bahan-bahan alam yang tersedia di lingkungan sekitar.
“Bukan hanya aspek rohani yang kami bangun, tetapi juga aspek budaya, keterampilan, ekonomi, dan kehidupan sehari-hari. Apa yang kami miliki di Maybrat kami bagikan kepada saudara-saudara dari Maluku, begitu juga pengalaman yang mereka miliki akan dibagikan kepada kami,” katanya.
Selain pelatihan keterampilan, peserta juga akan mengikuti berbagai kegiatan rohani seperti cerdas cermat Alkitab, dinamika kelompok, persekutuan doa, serta aktivitas pelayanan lainnya yang bertujuan memperkuat kebersamaan dalam tubuh Kristus.
Lince berharap hasil dari kegiatan tersebut tidak berhenti di lingkungan gereja, tetapi dapat diterapkan dan dibagikan kepada masyarakat yang lebih luas.
“Kami berharap setelah kegiatan ini selesai, pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh bisa kami teruskan kepada masyarakat, pemerintah kampung, distrik, maupun kelompok perempuan lainnya. Potensi yang dimiliki perempuan Maybrat perlu terus dikembangkan dan mendapat perhatian agar menjadi kekuatan bagi pembangunan daerah,” ungkapnya.
Sementara itu, Ketua Majelis Jemaat GPM Itawaka, Pendeta Jei Thomas Siwabesi, mengaku terharu atas sambutan hangat yang diberikan warga Jemaat GKI Emaus Susumuk.
“Tarian penyambutan yang ditampilkan ibu-ibu menguatkan kami jika Jemaat Emaus Susumuk menerima kami dengan penuh sukacita. Sambutan ini menjadi tanda persaudaraan yang sangat indah,” tuturnya.
Ia mengenang kunjungan Jemaat GKI Emaus Susumuk ke Itawaka beberapa tahun lalu dan menilai Koinonia Balasan menjadi bukti hubungan persaudaraan yang terus terpelihara.
“Kami datang bukan hanya untuk berbagi pengalaman pelayanan, tetapi juga belajar dari Jemaat Emaus Susumuk. Apa yang baik di sini akan kami bawa pulang untuk dikembangkan di tempat kami, begitu pula apa yang kami miliki akan kami bagikan kepada saudara-saudara di sini,” katanya.
Menurutnya, perjumpaan tersebut tidak sekadar menjadi agenda seremonial, melainkan awal dari hubungan pelayanan yang terus berlanjut di masa mendatang.
“Di dalam Kristus tidak ada lagi perbedaan. Kita semua adalah satu tubuh. Pertemuan hari ini bukan akhir dari kebersamaan, tetapi menjadi awal dari persaudaraan yang semakin erat antara Jemaat GPM Itawaka dan Jemaat GKI Emaus Susumuk,” pungkasnya.
Pewarta: Charles Fatie
![]()

More Stories
Sambut HUT ke-81 RI, Plt Kepala Distrik Napua Serahkan Bantuan Dana Kegiatan dan Operasional
Gubernur Meki Nawipa Pimpin Taptu dan Pawai Obor, Semangat Kemerdekaan Membara di Papua Tengah
Uskup Hilarion Ajak Umat Berdoa untuk Perdamaian Maybrat di Tengah Situasi Memprihatinkan