Dalam momen hari bersejarah bagi umat Nasrani memperingati penderitaan dan kematian Yesus, Sang Juru Selamat umat manusia, Ia telah menanggung luka, penghinaan, dan ketidakadilan.
Penderitaan yang dialami oleh Sang Raja, Juru Selamat umat manusia, di atas kayu salib di Bukit Golgota menyiksa Yesus oleh tentara Romawi di bawah perintah Gubernur Romawi, Pontius Pilatus.
Penderitaan, kesengsaraan, dan ketidakadilan itu nyata di tanah Papua, berjalan telanjang di muka umum, terutama terhadap orang Papua di segala aspek kehidupan di atas tanah dan negeri milik orang Papua.
Kematian orang Papua dengan berbagai cara moncong senjata, pembunuhan masalah, disiksa, dihina, dan dianiaya telah berlangsung lama di negeri ini. Tidak hanya itu, sumber daya alam yang terkandung dalam perut bumi tanah Papua dikeruk orang asing: emas diambil, minyak diambil, hutan diambil. Tanah dan hutan yang menjadi rumah bagi orang Papua kini terkikis dan diambil habis.
Perayaan hari ini, orang Papua dalam situasi yang dialami oleh Sang Penebus doa dan Juru Selamat umat manusia.
Esensi dari Jumat Agung adalah melihat situasi dan kondisi saat ini, melihat keadaan di sekelilingmu, di gerejamu, di keluargamu apakah penyiksaan, ketidakadilan, dan kematian itu terus berlangsung.
Peringatan bukan sekadar rutinitas tahunan sebagai panggung mencari popularitas, tetapi refleksikanlah situasi di sekitar dan sekelilingmu.
Situasi ini terus berlanjut di tanah Papua, tetapi juga di dalam keluarga dengan anak, istri, dan kerabat. Maka peringatan Jumat Agung hanya menjadi perayaan biasa tanpa ada makna mendalam dalam kehidupan nyata.
Jumat Agung dan Paskah bicara soal realitas kehidupan nyata, situasi, dan posisi keluarga kita saat ini.
Kita terus memperbaiki situasi kita karena Yesus Kristus telah rela mengorbankan nyawanya terlebih dahulu bagi kita semua. Jangan lagi ada pembunuhan, penghinaan, ketidakadilan, rasisme di tanah ini. Jangan lagi pencurian tanah, pencurian kekayaan milik orang Papua atas nama negara di atas tanah ini. Jangan lagi ada kematian orang Papua di atas tanah Papua demi menduduki tanah Papua. Jangan lagi orang Papua mati karena penyakit sosial. Jangan lagi orang Papua mati kelaparan.
Bangun dari tempat tidurmu, lihat sekelilingmu, lihat keluargamu sebagai gereja yang didirikan langsung oleh Tuhan. Hiduplah berdamai dengan semua orang, seperti mimpi dan tujuan Yesus Kristus yang telah menebus dosa kita semua. (Yohanes 15:13).
Selamat merayakan Jumat Agung
Hubula,Jumat 3 April 2026.
Akia Wenda
Ketua Departemen Pemuda Baptis West Papua
![]()

More Stories
Raker Alumni IMPT Manokwari Papua Tengah Digelar, Fokus Reuni Akbar 2028
Jhoni Kobogau, S.E , MM Anggota Legislatid DPR Provinsi Papua Tengah: Menitipkan Jerit Rakyat di Meja Kuasa, Sebuah Diplomasi Hati untuk Intan
7 Siswa SD Impres Oyehe Nabire Sakit Usai Konsumsi MBG, Sempat Dirawat—Muncul Dugaan Keracunan vs Alergi Udara