24 Januari 2026

DETIK PAPUA

Berita Papua Terkini

Pasca Insiden Rekonsiliasi Gagal, Wakil Gubernur dan Bupati Yalimo Sepakat Bangun Perdamaian Sosial

Detikpapua.com : Wamena, – Upaya rekonsiliasi sosial di Kabupaten Yalimo kembali digulirkan setelah insiden pelemparan batu yang menggagalkan kegiatan doa bersama pada 3 Oktober lalu. Wakil Gubernur Papua Pegunungan, Dr. Ones Pahabol, menerima kunjungan resmi dari Bupati Yalimo, Dr. Nahor Nekwek, M.M., untuk menyampaikan permohonan maaf dan menyusun langkah konkret membangun perdamaian yang melibatkan seluruh elemen masyarakat.

Pertemuan ini berlangsung di Wamena, menyusul batalnya kegiatan doa rekonsiliasi yang semula dijadwalkan di Yalimo. Aksi pelemparan oleh sekelompok orang menyebabkan Wakil Gubernur harus dievakuasi demi keselamatan.

Dalam pertemuan tersebut, kedua pemimpin menyampaikan keprihatinan mendalam atas insiden yang terjadi. Mereka menegaskan bahwa rekonsiliasi bukan sekadar seremoni, melainkan proses spiritual dan sosial yang harus melibatkan tokoh adat, gereja, pemuda, dan keluarga.

“Rekonsiliasi harus dibangun atas dasar firman Tuhan, tanpa gesekan, tanpa ejekan, dan tanpa tindakan yang melukai. Kita orang Papua Pegunungan, 99% berkulit hitam, dan kami menolak segala bentuk rasisme. Ini bukan hanya soal Yalimo, tapi soal martabat manusia yang harus dihormati di seluruh dunia,” tegas Dr. Ones Pahabol.

Ia juga menyoroti pentingnya pendidikan karakter bagi generasi muda serta peran orang tua dalam membina anak-anak secara rohani dan moral.

“Kemarin saya menyaksikan sendiri, doa tidak boleh dilakukan. Itu sangat tidak boleh. Jika saya sebagai Wakil Gubernur tidak diterima, saya bisa mengundurkan diri. Tapi jika Tuhan tidak boleh hadir, itu tidak bisa diterima,” ujarnya.

Di akhir pertemuan, kedua pihak sepakat bahwa Yalimo merupakan wilayah strategis dalam pembangunan manusia dan ekonomi. Sebagai pintu masuk ke wilayah pegunungan, Yalimo harus menjadi prioritas dalam perencanaan pembangunan provinsi dan nasional.

“Kami akan terus evaluasi, merenung, dan memperbaiki. Ada PR besar yang harus kami selesaikan bersama—pemerintah, gereja, tokoh adat, dan seluruh elemen masyarakat,” tutup Ones Pahabol.

Sementara itu, Bupati Yalimo, Dr. Nahor Nekwek, M.M., memastikan bahwa situasi di wilayahnya telah kembali aman dan kondusif. Ia menyampaikan permohonan maaf kepada Wakil Gubernur, tim Pemerintah Provinsi, serta Kementerian Sosial atas ketidakharmonisan yang terjadi.

“Kami, Pemerintah Kabupaten Yalimo, menyampaikan permohonan maaf kepada Bapak Wakil Gubernur dan seluruh tim yang hadir. Saya sebagai Bupati, dan kami sebagai orang Yali, menganggap hubungan ini seperti kakak dan adik,” ujar Dr. Nahor Nekwek.

Ia menjelaskan bahwa insiden pelemparan terjadi akibat miskomunikasi antara staf pelaksana, terutama terkait dana rekonsiliasi yang disalurkan oleh Wakil Gubernur.

“Ada anggapan bahwa dana tersebut diberikan kepada Bupati dan tidak disampaikan kepada masyarakat. Padahal, kami hanya menyampaikan bahwa proses rekonsiliasi harus tetap berjalan,” jelasnya.

Bupati juga mengungkapkan bahwa sempat terjadi pengejaran terhadap rombongan pemerintah hingga ke Polres. Namun, melalui dialog langsung, masyarakat mulai memahami situasi sebenarnya.

“Malam harinya, kami membentuk panitia baru yang melibatkan lima distrik. Mereka menyampaikan permohonan maaf dan membuat pernyataan bersama. Pemerintah memberikan sedikit bantuan dana untuk mendukung kegiatan rekonsiliasi lanjutan,” tambahnya.

Dr. Nahor Nekwek menegaskan bahwa pemerintah akan terus mendukung proses rekonsiliasi secara menyeluruh dan terbuka. Ia juga telah menugaskan Wakil Bupati untuk melakukan koordinasi dengan lima distrik agar laporan dan kegiatan berjalan sesuai rencana.

“Situasi saat ini sudah aman. Kemarin kami telah makan bersama dan melakukan tradisi bakar batu sebagai simbol perdamaian. Lima distrik telah membentuk panitia dan akan segera melaporkan hasilnya,” tutup. (Red).

Loading

Facebook Comments Box