9 Juni 2026

DETIK PAPUA

Berita Papua Terkini

Membaca itu Siapakah? II

(Meretas Misteri Ilmu, Mengungkap Jalan Pencerahan)

*Siorus Ewainaibi Degei

Dalam tulisan seri pertama sudah kita jejaki sepintas lalu ihwal sejarah perkembangan ilmu pengetahuan, terutama filsafat sebagai induk semua disiplin. Setiap jaman menyajikan kekhasaannya masing-masing yang tak terduakan. Di setiap jaman, cara orang memandang aktivitas belajar, kiat pemburuan ilmu di belantara semesta ini sangat unik. Semua itu bisa kita gunakan sebagai titik tolak untuk memulai suatu kehidupan studi yang serius dan ketat. Pada bagian kedua sekaligus yang terkahir tulisan ini, akan kami sajikan beberapa tawaran cara pandang, bagaimana kita memandang ladang ilmu seperti buku, perpustakaan, dan aktivitas belajar secara lain, tidak seperti biasanya.

Membaca Sebagai “Subjek” bukan “Objek”

Melalu pertanyaan siapa itu membaca? Secara tidak langsung kita sudah mengangkat ‘harkat’ dan ‘martabat’ dari sebuah proses intelektual yang bernama membaca. Kita sudah kita memandang aktivitas membaca sebagai sebuah aktivitas “mati” yang tidak mempunyai daya dan roh yang menghidupkan, ia hanyalah “aktivitas formalitas akademik” atau kewajiban intelektual yang terbatas ruang kampus dan waktu kuliah, sebuah “tempat pelampiasan”, dan pandangan-pandangan sejenis lainnya. Di sini kita mau melihat aktivitas membaca sebagai suatu “teman hidup”, “kekasih/pacar”, “jantung hati”, “sahabat diskusi”, “pastor/pendeta/ yang baik”, “guru/dosen yang baik”, “pemimpin yang baik”, dan lainnya. Bahwa “membaca” itu adalah subjek yang hidup, ia bukan objek yang mati.

Mencintai Ilmu Supaya Tercerahkan 

Jika paradigma, minsed atau poin of view kita atas aktivitas membaca itu sudah terdongkrak dari tadinya objektiv-sentris berubah menjadi subjektif-sentris, maka hal penting lainnya yang mesti kita sodorkan ialah totalitas peluapana energi positif yang berdiam dalam kesucian hati atau jiwa kita, yaitu rasa cinta. Rasa cinta ini punya wajah ganda yang ambivalen, di satu sisi ia bersifat konstruktif-positif; membangun, menguatkan, membebaskan, memerdekakan, membahagiankan dan lain-lain. 

Sementara, di sisi lainnya tidak jarang rasa cinta juga bersifat destruktif; menyakitkan, membunuh, memecah-bela, menjajah, menindas, dan lain-lainnya. Lantas bagaiaman caranya agar rasa cinta itu tersalurkan secara baik dan betrtendenisi positif? Ada tiga jenis cinta dalam alam pemikiran Yunani, yakni Eros, Philia dan Agape. Dengan mengutip tiga pengertian Yunani Antik ini Paus Benedictus XVI dalam Ensiklik perdananya yang berjudul Deus Caritas Ets-God Is Love (Allah Itu Kasih) membahas: “Eros adalah kasih sayang antara pria dan wanita di mana kasih tersebut tidak direncanakan ataupun diinginkan, namun sepertinya tertanam di dalam diri manusia itu. Sedangkan philia adalah kasih persahabatan yang sering dipakai untuk menggambarkan kasih antara Kristus dan para murid-Nya, dan agape adalah kasih menurut pengertian Kristiani, yang mengacu kepada kasih yang rela berkorban.”

Semua kembali ke motivasi awal (beck to the basic motivation), kenapa saya mencinta (why I love)? Dalam konteks tulisan ini, kita pun harus “memurnikan motivasi awal” kita ketika berniat atau berminat “memegan buku” dan “mengangkat pena” dengan mengacukan perntayaan reflketif-kritis atas diri sendiri, kenapa saya membaca buku? Apakah untuk kemegahan dan kesombongan diri semata? Apakah demi kemuliaan diri, keluarga, marga, suku, agama, ras, budaya, golongan, dan lainnya? Apakah demi mencari nafkah hidup dan memperbaiki karir publik?

Kita harus berani secara kritis mempertanyakan dan mempertanggungjawabkan motiviasi kita untuk membaca, bahkan bukan saja membaca, melainkan semua aktivitas dan ruitnitas yang senantiasa kita geluti dalam keseharian hidup, kenapa saya hidup? Saya dari mana, ada di mana dan mau kemana? Dan pertanyaan-pertanyaan eksistensial lainnya, supaya kita jelas dan tegas berdiri dan berdikari sebagai manusia sejati yang tiada duanya.

Bukan Saja Buku: Membebaskan Si Baca dari Penjara “Perpustakaan”

Ada tengangan kencederungan yang pesat untuk secara terburu-buru atau serta-merta mengawinkan aktivitas membaca dengan buku atau perpustakaan. Selama berada-adab manusia “memenjarakan” atau “memperbudak” Si Baca pada imperium atau rezim yang bernama “buku, perpustakaan dan kampus/sekolah” seakan-akan selain buku, perpustakaan dan kampus/sekolah tidak ada lagi instrument-instrumen lain yang menjadi tempat persemaian ilmu pengetahuan. Kita harus bebas dari konsep yang mengerdilkan dan mengucilkan horizon eksistensi ilmu pengetahuan semacama ini sejak dini. Kita harus sadar bahwa objek dari subjek si baca itu luas, ia tidak terbatas ruang perpustakaan kampus/sekolah/masyarakat melainkan melampaui semuanya itu.

Objek atau terget dari sib aca itu pun bukan terbatas pada teks tertulis baik dalam kertas, media online dan sejenisnya. Objek si baca itu luas, ia meliputi seluruh alam semesta ini, semua alam makromo-komos (ekologi) maupun mikro-kosmos (manusia) itu adalah “objek si baca” yang sesungguhnya, kita harus mampu membaca alam. Hal ini amat baik diguliti dalam filsafat hermeneutika dan fenomenologi (Nietzsche, Edmund Husserl, Heddeigger, Marleau Ponty, Deridda, dll) atau suatu aliran filsafat yang menitikberatkan proses pencerapannya pada hal menafsir. Di sana secara tegas dikatakan bahwa dunia ini adalah teks yang harus kita tafsir, bahkan diri kita sendiri (aspek internal-interiori; tubuh, jiwa, roh, dll) adalah teks-teks penting yang mesti kita tafsirkan secara tuntas terlebih dahulu sebelum menafsir dunia di luar diri kita (aspek eksternal-eksterior; keluarga, marga, suku, masyarakat, alam, agama, adat, dll), walaupun hal ini tidak pernah mencapai tahap menjadi (terwujud), ia selalu berakhir di  tanda tanya (?), misteri. Menafsirkan dunia sebagai teks dan konteks adalah suatu cara mengada membaca yang menyeluruh, penuh dan utuh.

Konsep di atas ini bukan berarti mau mengeleminasi buku dan perpustakaan dari grammar (wacana) atau key words (kata kunci) kiat membaca, melainkan hendak memantik kita untuk berpikir radikal tentang hakekat dari sebuah aktivitas membaca itu sendiri. Bahwa membaca itu tidak bisa diredusir melulu hanya pada buku di dalam perpustakaan, melainkan sejatinya dunia ini beserta segala dinamikanya pertama-tama adalah “buku dan perpustkaan” yang sesungguhnya. Kita barangkali melek dengan pepatah yang mengatakan bahwa “Semua tempat adalah Sekolah, dan semua orang adalah Guru”, di sini kami mau memberikan catatan kritis bahwa ilmu itu “tidak bertempat/cangkang” dan “tidak berorang/tuan”, artinya sekali lagi bahwa ilmu itu luas, dalam, dan jauh, ia tidak bisa kita “aneksasi” ke dalam satu bentuk variabel “rezim kata-kata” atau “imperium bahasa” apapun itu bentuknya, ilmu itu hemat kami adalah “semua dalam segala sesuatu dan segala sesuatu dalam semua”.

Spiritualitas Pantat atau Jari?

Pastor Adolf Heuken SJ (1929-2019), seorang imam Jesuit, misionaris, sejarawan, penulis prduktif yang lama bertugas di Indonesia, tugasnya adalah mengarsibkan dokumen-dokumen penting, buku-buku serta catatan-catatan berharga di perpustakaan Kanisius, ia juga banyak sekali menghasilkan buku. Buku-buku Heuken yang paling terkenal dan berpengaruh itu seperti 20-an jilid ensiklopedia Gereja yang ia buat, ia juga menulis kamus bahasa Jerman-Indonesia dan sejarah kota kota Jakarta yang ‘Historical Sites of Jakarta’ (1982). Pater Heuken dikenal luas sebagai seorang yang sangat “kutu buku”, bahkan saking dekatnya dengan buku ia selalu dijuluki “perpustakaan berjalan” atau “ensiklopedia berjalan” banyak sekali jenis ilmu pengetahuan yang ia kuasai. Pada 2013 dirilis sebuah flim yang mengisahkan perjalanan hidupnya dengan tajuk “Adolf Heuken SJ – 50 Years of Dedication”, (https://tirto.id/profil-adolf-heuken-pastor-jerman-penulis-sejarah-kota-jakarta).  

Dalam setiap kesempatan mengajar di Seminari Mertoyudan Pater Heuken selalu mewajibkan para seminaris untuk duduk membaca buku atau belajar 10-12 jam, hal ini ia sebut sebagai “spiritualitas pantat”, bagi Pater Heuken pengetahuan bukan terletak di kepala, melainkan di pantat, jika orang mau pintar/cerdas ia mesti menghayati spiritualitas pantat secara tekun, tanam pantat di tempat duduk dan belajar segala sesuatunya. Pater Heuken bisa habiskan waktu berminggu-minggu sampai berbulan-bulan di dalam perpustakaan. Hal inilah yang barangkali membuat para romo Jesuit itu terkesan pandai-pandai dan semua didikan para Jesuit itu cerdas-cerdas bahkan jenius.

Selain menghayati spiritualitas pantat, di era ini penting juga kita hayati “spiritualitas jari”, sebagai homo digitalis atau mahkluk digital, jari punya peran yang penting mengotak-atik media digital seperti heand phone (hp), leptop, komputer dan lainnya. Jika dulu kita mendengar adagium “mulutmu adalah harimaumu”, kini adagium itu sudah terdistrubsi menjadi “jarimu adalah harimaumu”, jika dulu ada keyakinan “aku berpikir maka aku ada”, kini sudah berubah menjadi “aku klik, maka aku ada”, jika dulu keyakinan “pengetahuan itu ada di pantat” kini muncul juga keyakinan baru “pengetahuan itu ada di jari’, sehingga kita semua dipanggil untuk bijak menghayati “spiritualitas jari”.

Di era pasca kebenaran dan era gugurnya ragam metanarasi kita adalah apa yang kita posting, storikan, like, commen, subcribers, kita upload pada beranda media sosial kita (facebook, instagram, tiktok, X, youtube, WhatsApp, dan lainnya). Kita bukan lagi adalah apa yang kita pikirkan, katakan, dan buat di alam dunia kasat mata. Apa yang kita upload ke media sosial adalah menifestasi dari isi kedirian kita. Kita menjumpai fenomena ‘habis viral, terbitlah klarisifikasi’. Banyak orang menggunakan media digital dengan panduan libido yang infantil. Ruang maya banyak orang jadikan sebagai ladang konten. Algotima meta dengan demikian menkoyakkan moralitas dan rasionalitas seraya membangkitkan mental animalitas dan banalitas. ‘Manusia rasa binatang’, barangkali inilah wajah eksistensi manusia di dalam pusaran jagat digital yang penuh sentimen nirargumen ini. 

Budi yang Bersenyawa dengan Semesta:  Penutup

Kita harus siap untuk tampil berbeda. Ada tiga model cara mengada yang kami tawarkan, yakni penghayat hidup, pembelajar segala, peziarah makna, dan pecinta kemanusiaan. Penghayat hidup, artinya kita menghayati hidup ini, tidak melaluinya sia-sia, selalu ada refleksi yang kita buat. Kehidupan ini adalah sebuah anugerah, dari miliaran sel sperma yang berlomba menggapai dinding sel telur, hanya satu sel yang mampu, ia menyentuh dinding sel telur, terjadi pembuaan, dan jadilah kita. Itu berarti bahwa sudah miliaran mahkluk yang kita takluhkan sebelum menatap mentari, menhirup nafas. Kita adalah mampu, sehingga rahmat kehidupan ini mestilah senantiasa kita rayakan.

Berikut, pembelajar segala, sumber pengetahuan itu tidak selamanya bermukim di balik buku dan perpustakaan, sekolah dan kampus bukan satu-satunya juragan ilmu, alam semesta inilah gudang ilmu sebenarnya, tandom kehidupan inilah laboratorium raksasa bagi manusia untuk mencari dan menemukan sesuatu yang bernama ilmu. Siapa pun bisa menjadi guru dan dosen, di mana saja bisa jadi tempat belajar, kapan saja bisa jadi jam belajar tanpa harus terpatok pada sistem formal yang ada. Peziarah makna, model jiwa lain yang juga penting adalah pemburu nilai dan makna, bukan nilai dan makna kerdil, melainkan nilai dan makna filosofis yang bermuara pada kemaspahatan jagat. Belajar bukan untuk lulus, bukan untum ijazah, bukan untuk gelar sarjana, melainkan belajar untuk hidup dan kehidupan semua yang hidup agar tetap hidup. Menjadi pemburu dan pecinta makna-makna universal dalam belantara ilmu adalah panggilan bagi semu kaum pelajar. Pecinta kemanusiaan, ilmu dan adab selalu harus saling berpelukkan erat. Ilmu dan kemanusiaan dalam terang etika bajik adalah pelita dan peta jalan ilmuan sejati. Ilmu harus memiliki orientasi pada pembangunan kehidupan, pendidikan dan ilmu tanpa kemanusiaan hanya akan menimbulkan pembusukan, perang, dan punahnya banyak nyawa yang hidup. Ilmu adalah abdi bagi abadinya sejarah kehidupan manusia.

 Dengan demikian pertanyaan tentang sipakah itu membaca? Mengharuskan kita untuk mendekonstruksi atau merubah cara padang kita terhadap aktivitas membaca itu bukan saja melulu sebagai aktivitas intelektual yang mati, tidak berdaya apa-apa, melainkan lebih jauh dari kita harus menjadikan aktivitas membaca sebagai bagian esensial dari kehidupan kita, membaca bukan saja berhenti pada buku di dalam perpustakaan, melainkan membaca dunia, segala realitas hidup yang kita jumpai sejauh itu mampu kita inderai. Buku dan semua teks bacaan mesti menjadi “kekasih”, “sahabat” dan “jantung hati” kita sehingga energi cinta sejati yang ada dalam diri setiap kita mampu tersalurkan secara positif pada aktivitas-aktivitas eksistensial yang menyehatkan tubuh, jiwa dan roh kita sebagai manusia yang sejati. (*)

Daftar Rujukan:

(https://faisaleffendi04.wordpress.com/2016/05/11/belajar-filsafat-yunani-kuno-part-1/, 24/02/2024).

(https://faisaleffendi04.wordpress.com/2016/08/03/mengenal-sofisme/, 24/02/2024).

(https://youtu.be/Kelas Filsafat. Sejarah Filsafat Yunani Kuno: Platonisme).

(https://tirto.id/profil-adolf-heuken-pastor-jerman-penulis-sejarah-kota-jakarta).

(Paus Benedictus XVI, DEUS CARITAS EST (ALLAH ADALAH KASIH), ROMA 25 Desember 2005, SERI DOKUMEN GEREJA NO.83, diterbitkan dalam Bahasa Indonesia oleh DEPARTEMEN DOKUMENTASI DAN PENERANGAN KONFERENSI WALIGEREJA INDONESIA 2022, Piet Go, O.Carm (Penerjemah).

)* Penulis adalah Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Fajar Timur, Abepura-Papua.

Loading

Facebook Comments Box