Detikpapua.com : Wamena – Ketua Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Jayawijaya, Herman Doga, menegaskan komitmen menjaga tanah adat dan nilai budaya dalam panen raya ubi keluarga besar Walak di Kampung Hubikosi, Distrik Hubikosi, Senin (2/3).
Dalam kesempatan itu, Herman menekankan bahwa tugas LMA adalah mempertahankan kebun, babi, dan honai sebagai simbol kehidupan masyarakat adat.
“Tugas LMA adalah kebun, babi, dan honai. Ini yang kita pertahankan agar kita bisa hidup lama. Nilai adat tetap berlaku sampai hari ini, dan kita kembalikan nilai lama yaitu ubi,” ujarnya.
Ia menambahkan, masyarakat harus menjauhi perang dan mabuk, karena penyebab utama kematian saat ini adalah kelaparan.
“Perang tidak, mabuk tidak. Banyak yang meninggal karena lapar. Kita harus jadi guru untuk menanam, berkebun, dan bikin honai agar jadi contoh,” kata Herman.
Herman juga menegaskan bahwa tanah adat tidak boleh diperjualbelikan.
“Tanah tidak boleh ada yang jual. Tanah sisa yang ada ini jangan dijual. Semua harus disepakati bersama lalu dibuat sertifikat. Kita jaga tanah ini dengan baik. Ini bukan sekadar ubi, tapi mama. Kita tidak bisa hidup tanpa ubi,” tegasnya.
Sementara itu, PJ Kepala Desa Hubikiak, Agus Huby, menyampaikan apresiasi kepada suku Walak atas dukungan terhadap pemerintah kampung. Ia menegaskan komitmen pemerintah untuk menjaga tanah adat.
“Sebagian besar tanah di Hubikiak sudah dijual, tinggal sedikit yang tersisa. Karena itu saya minta kita semua menjaga tanah yang ada,” ujar Agus.
![]()

More Stories
Audrey Disebut dalam Jalur Distribusi Miras di Fakfak, Pernyataan Wabup dan Dewan Adat Kembali Disorot Publik
Pemda Jayawijaya Tekan Inflasi dan Jelang Lebaran Rencana Pasar Murah
Pengaruh Global akan Mempengaruhi Harga BBM dan Ekonomi, Disnaker Perindang: Masyarakat Kembali Hidupi Wen, Wam, Wene