9 Oktober 2026

DETIK PAPUA

Berita Papua Terkini

Izack Edroway Jadi Tameng Pejabat? Membela atau Sekadar Menjilat?

Opini Oleh: Ronaldo Josef Letsoin

Ada pemandangan yang belakangan menarik untuk direnungkan dalam ruang publik Fakfak. Ketika seorang pejabat dikritik oleh wartawan, yang muncul menjawab terkadang bukan pejabatnya. Bukan kepala dinas. Bukan pejabat yang memiliki kewenangan. Bukan pula juru bicara resmi pemerintah.

Nama yang justru kerap muncul adalah Izack Edroway.

Ia bukan pejabat Pemerintah Kabupaten Fakfak. Tidak ada jabatan pemerintahan yang melekat pada namanya dalam setiap polemik yang diberitakan. Namun, dalam sejumlah perdebatan di media sosial, ia terlihat cukup aktif memberikan tanggapan terhadap kritik yang diarahkan kepada pejabat maupun pemerintah.

Di sinilah publik kemudian mulai bertanya.

Mengapa seseorang yang tidak memegang jabatan publik justru terlihat begitu rajin berdiri di depan ketika pejabat dikritik?

Pertanyaan itu bukan tuduhan. Itu pertanyaan yang lahir dari fenomena yang dapat dilihat di ruang publik.

Dalam demokrasi, siapa pun berhak berbicara. Izack memiliki hak yang sama untuk menyampaikan pendapat, mengkritik wartawan, maupun membantah sebuah pemberitaan. Tetapi ketika seseorang berulang kali mengambil posisi untuk menghadapi kritik terhadap pejabat, publik juga memiliki hak untuk membaca pola tersebut.

Dari sinilah istilah “tameng” mulai muncul.

Bukan tameng dalam arti resmi. Bukan pula tuduhan bahwa ia mendapat perintah dari pejabat tertentu. Tetapi sebuah metafora untuk menggambarkan seseorang yang tampak berdiri di depan ketika kritik diarahkan kepada kekuasaan.

Dan ada ironi di dalamnya.

Pejabat memiliki kewenangan, tetapi suara pembelaannya datang dari luar struktur pemerintahan.

Wartawan mengajukan pertanyaan kepada pemerintah, tetapi perdebatan justru berpindah kepada Izack.

Di titik itu, publik tentu boleh bertanya: Apakah pejabat tidak bisa menjawab sendiri?

Pers bekerja dengan pertanyaan.

Ketika ada temuan pemeriksaan BPK, wartawan bertanya.

Ketika ada proyek yang kualitasnya dipersoalkan masyarakat, wartawan turun ke lapangan.

Ketika ada penggunaan anggaran yang perlu dijelaskan, wartawan meminta konfirmasi.

Ketika pemerintah diam, wartawan menulis berdasarkan informasi yang telah diverifikasi.

Itulah pekerjaan jurnalistik.

Jika data yang disampaikan wartawan salah, bantahlah dengan data.

Jika dokumennya keliru, hadirkan dokumen yang benar.

Jika fakta lapangan berbeda, tunjukkan fakta tandingan.

Jika wartawan melanggar kode etik, gunakan mekanisme pers.

Tetapi jangan mengubah pertanyaan jurnalistik menjadi pertengkaran personal.

Sebab menyerang wartawan tidak otomatis membatalkan fakta yang diberitakan.

Sebuah temuan tidak menjadi salah hanya karena tidak disukai.

Sebuah pertanyaan tidak menjadi haram hanya karena membuat pejabat tidak nyaman.

Dan sebuah kritik tidak berubah menjadi fitnah hanya karena seseorang merasa terganggu.

Ada ironi yang kadang terasa seperti satire.

Pejabat mempunyai kantor.

Pejabat mempunyai staf.

Pejabat mempunyai humas.

Pejabat memiliki ruang konferensi pers.

Pejabat memiliki hak jawab.

Tetapi ketika kritik datang, justru muncul seseorang dari luar struktur yang berdiri paling depan.

Seperti seorang penjaga yang lebih sibuk menjaga pintu daripada pemilik rumahnya sendiri.

Izack mungkin melihat dirinya hanya sedang memberikan pandangan. Mungkin ia merasa pemberitaan tertentu perlu diluruskan. Mungkin ia hanya ingin membela pihak yang menurutnya diperlakukan tidak adil.

Semua kemungkinan itu terbuka.

Namun, semakin sering pola tersebut terjadi, semakin wajar pula publik bertanya tentang posisi dan kepentingannya dalam setiap perdebatan.

Sebab di ruang publik, posisi seseorang tidak hanya dibentuk oleh apa yang ia katakan, tetapi juga oleh tempat ia terus-menerus memilih untuk berdiri.

Di tengah percakapan masyarakat, Izack juga kerap disebut-sebut menerima endorse dari pejabat.

Pernyataan seperti itu perlu ditempatkan secara hati-hati. Tanpa bukti transaksi, kontrak, atau pernyataan dari pihak terkait, tidak tepat menjadikannya sebagai fakta.

Namun sebagai fenomena komunikasi publik, isu tersebut tetap menarik untuk dibicarakan.

Sebab ketika seorang figur sering terlihat dekat dengan pejabat, kemudian juga aktif memberikan pembelaan ketika pejabat mendapatkan kritik, publik tentu dapat membentuk persepsinya sendiri.

Pertanyaannya kemudian bukan: “Apakah benar Izack menerima endorse?”

Pertanyaan jurnalistik yang lebih tepat adalah: “Apakah terdapat hubungan profesional atau kepentingan tertentu yang perlu dijelaskan kepada publik ketika ia memberikan pembelaan terhadap pejabat?”

Transparansi adalah jawabannya.

Jika tidak ada hubungan apa pun, katakan tidak ada. Jika ada kerja sama profesional, jelaskan dalam kapasitas apa. Sebab keterbukaan justru dapat menghindarkan seseorang dari prasangka.

Ada penyakit lama dalam politik lokal: pejabat mudah menikmati pujian, tetapi gelisah ketika kritik datang.

Padahal pejabat publik bukanlah raja. Jabatan bukan mahkota. Kantor pemerintahan bukan istana. Dan wartawan bukan abdi yang harus selalu mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja. Pers memiliki tugas untuk bertanya bahkan ketika pertanyaan itu tidak menyenangkan.

Masyarakat memiliki hak untuk mengetahui bahkan ketika informasi tersebut membuat pemerintah harus bekerja lebih keras memberikan penjelasan.

Karena itu, pejabat tidak membutuhkan tameng.

Keberanian untuk menjawab. Keberanian untuk membuka data. Keberanian mengakui jika ada kesalahan. Dan keberanian memperbaiki kesalahan tersebut.

Izack tentu boleh berbicara. Tetapi tidak semua pertanyaan publik harus menjadi urusan Izack.

Ketika wartawan bertanya kepada pemerintah tentang kebijakan pemerintah, biarkan pemerintah menjawab.

Ketika wartawan bertanya kepada kepala dinas, biarkan kepala dinas menjawab.

Ketika wartawan meminta klarifikasi kepada pejabat, berikan ruang kepada pejabat tersebut untuk memberikan klarifikasi.

Sebab terlalu sering berdiri di depan kekuasaan justru dapat membuat seseorang terlihat seperti bagian dari kekuasaan itu sendiri.

Dan di situlah sindiran ini menemukan tempatnya: Izack bukan pejabat, tetapi mengapa selalu seperti pejabat? Izack bukan humas, tetapi mengapa sering seperti humas? Izack bukan pihak yang dikritik, tetapi mengapa ia yang paling sibuk menjawab?

Pertanyaan-pertanyaan itu bukan penghukuman.

Itu cermin.

Dan setiap orang yang berdiri di ruang publik harus siap melihat dirinya sendiri di dalam cermin tersebut.

Pada akhirnya, Izack berhak membela siapa pun.

Wartawan berhak mengkritik siapa pun berdasarkan fakta.

Pejabat berhak memberikan klarifikasi.

Dan masyarakat berhak menilai.

Tetapi satu prinsip harus tetap dijaga:

Jika kritik datang membawa data, jawab dengan data. Jika kritik datang membawa fakta, jawab dengan fakta. Jangan membuat tameng dari manusia hanya untuk menghindari pertanyaan yang seharusnya dijawab oleh pejabat.

Sebab dalam demokrasi, kekuasaan yang sehat tidak membutuhkan banyak orang untuk membelanya.

Kekuasaan yang sehat cukup berdiri sendiri, membuka data, lalu menjawab pertanyaan rakyat.

Dan bagi siapa pun yang memilih menjadi tameng, satu hal perlu diingat: Tameng mungkin bisa menahan pukulan, tetapi tidak akan pernah bisa menutupi cahaya fakta.

Loading

Facebook Comments Box