DETIKPAPUA.COM : WAMENA — Pemerintah Kabupaten Jayawijaya terus mengambil langkah responsif untuk menjaga keterjangkauan harga kebutuhan pokok sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi kawasan. Di tengah tantangan dinamika pasar dan ancaman fenomena cuaca El Nino yang sempat memicu kenaikan inflasi di wilayah Papua Pegunungan hingga menembus angka 7 persen lebih, upaya perbaikan mulai membuahkan hasil hingga inflasi melandai ke kisaran 4 persen. Meski demikian, fluktuasi harga komoditas hortikultura utama seperti cabai, tomat, dan bayam yang sangat bergantung pada pasokan hasil tani lokal menuntut adanya penanganan yang konsisten dan berkelanjutan. Oleh karena itu, kolaborasi strategis lintas sektor terus diperkuat untuk memastikan ketersediaan barang di pasaran, memitigasi risiko kekeringan pada lahan pertanian, serta memajukan berbagai potensi ekonomi daerah—mulai dari pariwisata, UMKM, hingga optimalisasi sarana perdagangan publik—guna mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat secara inklusif di Wamena, Selasa (1/9/2026).
Langkah dan arah kebijakan pengendalian inflasi tersebut disampaikan langsung oleh Bupati Jayawijaya, Atenius Murip. Ia menegaskan bahwa koordinasi bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Jayawijaya, TPID Papua Pegunungan, dan Bank Indonesia (BI) sangat krusial untuk memetakan akar masalah pergerakan harga.
“Faktor-faktor yang menentukan itu banyak, tentunya dari pasar, harga-harga pasar. Kita selama ini memang naik turun,” ujar Atenius Murip di Wamena.
Menurut Atenius, kunci utama penekanan inflasi di daerahnya terletak pada kelancaran produksi dan pasokan komoditas hortikultura dari para petani lokal kepada masyarakat.
“Kalau produksi masyarakat beredar dan sayur-mayur di pasar itu banyak, inflasi turun,” katanya.
Terkait tantangan iklim dan cuaca yang berpotensi mengganggu musim tanam serta pasokan pangan, Bupati Jayawijaya mengimbau masyarakat untuk tetap optimistis menghadapi dampak kemarau panjang.
“Dari bukti beberapa hari kemarin, Jumat, Sabtu, Minggu hujan. Hari ini juga kita perkirakan sore atau malam semoga hujan. Kita doa bersama, kita bersyukur,” ungkapnya.
Selain fokus pada komoditas pangan, Atenius menilai kehadiran Bank Indonesia menjadi momentum penting untuk menggali sektor-sektor unggulan lain, seperti perdagangan, UMKM, pariwisata, hingga transportasi.
“Dengan hadirnya Bank Indonesia, saya membuka cakrawala potensi-potensi yang bisa dikembangkan di semua sektor di Jayawijaya,” jelasnya.
Ia juga menyentuh persoalan fasilitas perdagangan daerah, seperti mal, yang memerlukan dukungan dan rehabilitasi namun terkendala oleh keterbatasan serta efisiensi anggaran APBD.
“Keinginan kita ada. Dengan hadirnya Bank Indonesia, kami sampaikan barangkali ketika dari Bank Indonesia bisa membantu, bisa melihat potensi-potensi yang ada yang bisa dikembangkan,” pungkasnya. (Red).
![]()

More Stories
Samuel Sauwyar Tokoh Intelektual Sarmi Soroti Penggunaan Dana Otsus di Kabupaten Sarmi
Dana Otsus Belum Cair, Sekda Maybrat: Terlalu Banyak Sistem yang Mengatur
Okto Sineri: Data OAP Jadi Kunci Perencanaan Pembangunan dan Ketepatan Dana Otsus