FAKFAK, detikpapua.com— Puncak peringatan 666 Tahun Masuknya Islam di Tanah Papua di Kabupaten Fakfak, Papua Barat, tidak hanya menjadi momentum mengenang perjalanan sejarah Islam di Tanah Papua. Dalam kegiatan yang berlangsung di RTH Ma’ruf Amin, Sabtu (8/8/2026), juga diluncurkan Buku Sejarah Masuknya Islam di Tanah Papua.
Peluncuran buku ditandai dengan pembukaan buku secara bersama-sama oleh Gubernur Papua Mathius Fakhiri, Wakil Gubernur Papua Barat Mohamad Lakotani, Bupati Fakfak Samaun Dahlan, Wakil Bupati Fakfak Donatus Nimbitkendik, Wakil Bupati Teluk Bintuni Joko Lingara, Sekretaris Daerah Papua Barat Ali Baham Temongmere, Pj Sekda Fakfak Aroby Hindom, Ketua MUI Papua Barat Mulyadi Djaya, Presiden AFKN KH Dr. M.Z. Fadzlan Garamatan, tokoh agama, tokoh adat, serta para Raja dari tujuh petuanan.
Peluncuran tersebut menandai secara resmi hadirnya buku yang merangkum perjalanan sejarah masuknya Islam di Tanah Papua.
Sekda Papua Barat Ali Baham Temongmere menegaskan bahwa 8 Agustus 1360 Masehi telah ditetapkan sebagai tanggal resmi masuknya Islam di Tanah Papua.
Menurut Ali Baham, penetapan tersebut merupakan hasil proses panjang yang berlangsung lebih dari tiga dekade, sejak 1994 hingga Januari 2025. Berbagai seminar dan penelusuran sejarah dilakukan di sejumlah daerah, termasuk Ternate, Aceh, Bintuni, Kaimana, dan Raja Ampat.
“Proses ini mengendap selama 30 tahun lebih. Dari tahun 1994, 2014, 2024, hingga Januari 2025. Kita terus melakukan seminar dan penelusuran sejarah dari Ternate, Aceh, hingga keliling Bintuni, Kaimana, dan Raja Ampat untuk mengumpulkan data. Hari ini sudah final, tanggal 8 Agustus 1360 adalah yang resmi masuknya agama Islam di Tanah Papua,” ujar Ali Baham.
Ia menjelaskan, proses penetapan tersebut sempat menghadapi perbedaan sejumlah versi sejarah, antara lain versi Patipi, Patimunin, Pulau Adi, hingga Bintuni.
Saat menjabat sebagai Penjabat Gubernur Papua Barat pada 2023, Ali Baham mengaku mendorong agar perdebatan sejarah tersebut tidak terus berlangsung tanpa keputusan.
Baginya, penetapan tanggal tersebut bukan sekadar persoalan sejarah, tetapi juga memiliki nilai spiritual dan patriotisme dalam perjalanan bangsa Indonesia.
Ali Baham mengisahkan dialog Presiden Soekarno dengan Raja Rumbati, Haji Ibrahim Bauw, terkait perjuangan pembebasan Irian Barat. Dalam dialog tersebut, Raja Rumbati menyarankan agar momentum perjuangan tersebut diselaraskan dengan tanggal masuknya Islam di Fakfak, yakni 8 Agustus.
“Jadi, ada nilai spiritualnya, tetapi ada juga semangat patriotisme untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),” jelasnya.
Ali Baham juga menyinggung sejarah masuknya pasukan Brimob Pelopor dari Kataloka menuju Rumbati yang disambut masyarakat setempat dengan nyanyian adat.
Ia menegaskan, meskipun isi buku masih dapat disempurnakan melalui masukan untuk edisi berikutnya, tanggal yang telah ditetapkan tidak akan berubah.
“Kalau dalam buku ini nanti masih ada hal yang kurang, tentunya silakan berikan masukan untuk edisi berikutnya. Namun yang pasti, tanggal dan tahunnya tidak akan pernah berubah lagi,” pungkasnya.
Sementara itu, Bupati Fakfak Samaun Dahlan menegaskan bahwa peringatan 666 Tahun Islam di Tanah Papua tidak boleh berhenti sebagai kegiatan seremonial semata.
Menurutnya, momentum tersebut harus menjadi ruang untuk memperkuat persaudaraan, toleransi, kebersamaan, dan persatuan masyarakat di tengah keberagaman Fakfak.
Samaun menekankan pentingnya menghidupkan nilai rahmatan lil alamin, yakni pesan universal Islam yang diwujudkan melalui cinta kasih dan kepedulian terhadap sesama.
“Yang terpenting adalah pesan Islam yang bersifat universal itu yang harus dilestarikan untuk mewarnai kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat, khususnya di Tanah Papua, yaitu nilai rahmatan lil alamin,” ujar Samaun.
Menurutnya, nilai cinta kasih akan melahirkan kerukunan, kebersamaan, dan persatuan. Nilai tersebut sejalan dengan karakter masyarakat Fakfak yang sejak dahulu hidup dalam keberagaman.
Samaun mengaitkan semangat tersebut dengan filosofi lokal Satu Tungku Tiga Batu atau Ido Ido Maninina Jojor, yang selama ini menjadi salah satu pedoman masyarakat Fakfak dalam menjaga kehidupan bersama.
Kearifan lokal tersebut menggambarkan bagaimana masyarakat dengan latar belakang suku, etnis, dan agama yang berbeda dapat hidup berdampingan dalam satu ikatan persaudaraan.
Bupati menegaskan bahwa keberagaman juga menjadi landasan dalam pembangunan Kabupaten Fakfak menuju daerah yang mandiri, sejahtera, aman, dan berdaya saing.
Ia menilai peringatan 666 Tahun Islam di Tanah Papua menjadi ruang silaturahmi lintas umat.
Menurutnya, kegiatan ritual keagamaan merupakan bagian dari keyakinan masing-masing umat dan harus dihormati. Sementara kegiatan seremonial seperti peringatan sejarah dapat menjadi ruang bersama bagi seluruh masyarakat untuk berkontribusi.
“Peringatan hari masuknya agama Islam ke Tanah Papua saat ini merupakan kegiatan yang bersifat seremonial, sehingga dapat memberikan peluang bagi suku, etnis, dan pemeluk agama lain untuk ikut memberikan kontribusinya,” jelas Samaun.
Samaun juga mengapresiasi panitia peringatan, termasuk Koordinator Panitia Dr. H. Wahidin Puarada, yang telah menyusun berbagai kegiatan dalam rangkaian peringatan.
Sejumlah kegiatan digelar, mulai dari lomba hadrat, sholawat, baca Yasin, Kitab Berzanji, ceramah bagi siswa SLTA, hingga haflah Al-Qur’an.
Ia menilai kegiatan tersebut bukan hanya menjadi tontonan, tetapi juga tuntunan karena mengandung pesan keagamaan dan pendidikan bagi masyarakat.
Kehadiran KH Munawir Aseli, MA dari Jakarta juga diapresiasi karena dinilai memberikan pemahaman mengenai misi Islam di Tanah Papua, khususnya tentang konsep rahmatan lil alamin.
Bagi Fakfak, peringatan 666 Tahun Islam di Tanah Papua akhirnya bukan hanya berbicara tentang angka dan perjalanan sejarah. Momentum tersebut juga menjadi pengingat bahwa sejarah harus diwariskan bersama dengan nilai persaudaraan, toleransi, dan kehidupan yang harmonis.
Di tengah keberagaman masyarakat Fakfak, filosofi Satu Tungku Tiga Batu menjadi pesan kuat bahwa perbedaan bukan alasan untuk terpecah, melainkan kekuatan untuk hidup bersama.
![]()

More Stories
Harhubnas 2026, Insan Maritim Sambangi Panti Asuhan Ina Maria yang Diasuh Suster TMM di Fakfak
Karhutla Tak Hanya di Bomberay, Api Masih Terjadi di Mbahamdandara dan Tomage
Tambah 1.724 Jiwa dalam 6 Bulan, Penduduk Fakfak Tembus 98.227 Jiwa