Fakfak, detikpapua.com – Program Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar Daerah (PPLPD) Kabupaten Fakfak, khususnya pada cabang olahraga sepak bola, telah berjalan selama bertahun-tahun dan sejatinya patut diapresiasi. Program ini dirancang sebagai wadah pembinaan atlet usia dini sekaligus investasi jangka panjang bagi peningkatan prestasi olahraga daerah.
Namun demikian, realitas di lapangan menunjukkan bahwa capaian yang dihasilkan belum sejalan dengan tujuan tersebut. Hingga kini, PPLPD cabang sepak bola yang kerap membawa nama Kabupaten Fakfak dan Provinsi Papua Barat dalam berbagai kejuaraan nasional belum mampu mengukir prestasi yang benar-benar membanggakan dan mengharumkan nama daerah.
Ironisnya, pelaksanaan program ini ditopang oleh anggaran yang tidak sedikit. Dana yang tergolong besar, bahkan dinilai fantastis oleh publik, belum berbanding lurus dengan hasil prestasi yang diraih. Kondisi ini menjadi indikator kuat adanya persoalan serius dalam tata kelola program, perencanaan pembinaan, serta kualitas pendampingan atlet di lingkungan PPLPD Fakfak.
Atas dasar itu, publik menilai wajar jika muncul pertanyaan mengenai tingkat keseriusan dan efektivitas pendidikan serta pembinaan yang dijalankan dalam program PPLPD Kabupaten Fakfak, khususnya pada cabang olahraga sepak bola.
Pada ajang Pekan Olahraga Pelajar Nasional (Popnas) Tahun 2025, PPLPD Kabupaten Fakfak mendapat kepercayaan untuk mewakili Provinsi Papua Barat. Keikutsertaan ini diharapkan menjadi momentum pembuktian hasil pembinaan atlet usia dini yang telah dilakukan selama bertahun-tahun.
Namun harapan tersebut kembali belum terwujud. Kehadiran PPLPD Fakfak di ajang nasional itu belum mampu menghasilkan prestasi signifikan maupun capaian yang membanggakan bagi daerah. Fakta ini semakin menegaskan bahwa program PPLPD, khususnya cabang sepak bola, masih menyisakan persoalan mendasar terkait kualitas pembinaan dan efektivitas penggunaan anggaran.
Sorotan terhadap pengelolaan PPLPD Fakfak kembali menguat menjelang pelaksanaan Kongres PSSI Tahun 2026. Kritik tersebut datang dari seorang orang tua atlet PPLPD cabang sepak bola yang tidak ingin namanya disebutkan dan sebelumnya mengikuti Popnas 2025 di Gorontalo.
Kepada media, orang tua tersebut—yang tidak ingin namanya disebutkan—secara terbuka mengungkapkan sejumlah persoalan yang dialami anaknya selama mengikuti kegiatan PPLPD. Meski meminta identitasnya tidak dipublikasikan, ia menegaskan bahwa kesaksiannya disampaikan agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang dan dapat menjadi bahan evaluasi bagi pihak terkait.
Ia mengungkapkan kekecewaannya terhadap minimnya perhatian dan pendampingan dari panitia maupun pengurus PPLPD asal Kabupaten Fakfak selama keikutsertaan para atlet di ajang nasional tersebut.
“Anak saya cerita ke saya, setelah mereka berangkat dan tiba di Gorontalo, barulah sepatu dibagikan oleh ofisial pada malam hari, sementara keesokan harinya sudah harus bertanding,” ungkapnya.
Menurutnya, kondisi tersebut mencerminkan kurangnya kesiapan serta perhatian terhadap kebutuhan dasar atlet. Perlengkapan penting seperti sepatu, kata dia, seharusnya sudah dipersiapkan jauh hari sebelum pertandingan berlangsung.
Lebih lanjut, ia menyebutkan bahwa sepatu yang dibagikan pun tidak layak digunakan untuk pertandingan sepak bola.
“Kalau mau dibilang, sepatu itu tidak layak. Baru dipakai satu kali langsung sobek. Hampir rata-rata semua pemain mengalami hal yang sama,” ujarnya.
Akibat kondisi tersebut, para atlet terpaksa menggunakan perlengkapan pribadi agar tetap dapat bertanding.
“Akhirnya kebanyakan anak-anak memilih pakai sepatu mereka sendiri, sepatu lama yang biasa mereka pakai latihan di Fakfak,” tambahnya.
Kesaksian ini menambah daftar panjang sorotan terhadap pengelolaan PPLPD Kabupaten Fakfak, khususnya cabang olahraga sepak bola. Selama bertahun-tahun berjalan, program yang diharapkan menjadi wadah pembinaan atlet usia dini ini dinilai belum menunjukkan hasil yang sebanding dengan besarnya dukungan anggaran yang tersedia.
Publik kini mendesak adanya evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola program, kualitas pembinaan atlet, serta transparansi penggunaan anggaran PPLPD Fakfak. Evaluasi tersebut diharapkan dapat memastikan agar ke depan program ini benar-benar berpihak pada kebutuhan atlet dan mampu melahirkan prestasi olahraga yang membanggakan bagi Kabupaten Fakfak dan Provinsi Papua Barat.
![]()

More Stories
Wabup Desak Pencabutan Izin Miras & Soroti Oknum Pelindung, Dewan Adat Mbaham Matta: Ini Demi Generasi Papua
Fajar Suryana, Cahaya Baru untuk Futsal Fakfak
Saatnya Berbenah, Fajar Usung Kemandirian dan Transparansi Organisasi