14 Juli 2026

DETIK PAPUA

Berita Papua Terkini

Aksi Damai Tolikara Tuntut Pengusutan Dugaan Penembakan Warga Sipil

DETIKPAPUA.COM : KARUBAGA – Ribuan warga Tolikara yang tergabung dalam Aksi Kemanusiaan Tolikara menggelar demonstrasi damai di Karubaga, Kabupaten Tolikara, Papua Pegunungan, Senin (6/7/2026).

Massa mendesak pengusutan tuntas atas dugaan penembakan terhadap seorang warga sipil, Korona Penggu, yang menurut peserta aksi melibatkan oknum TNI di Distrik Kubu pada 27 Juni 2026.Isi Berita (tetap utuh, tidak dikurangi)Aksi dimulai sekitar pukul 09.00 WIT. Massa bergerak dari sejumlah titik kumpul, yakni Ampera, Giling Batu, depan Bank Papua, Tugu Salib, dan Gurikme, sebelum berjalan menuju Kantor DPRD Kabupaten Tolikara dengan membawa berbagai spanduk dan menyampaikan aspirasi secara damai.Demonstrasi tersebut diikuti berbagai elemen masyarakat, mulai dari organisasi kepemudaan (OKP), kepala suku, tokoh gereja, tokoh masyarakat, tokoh intelektual, hingga para pemuda.

Sejumlah organisasi yang terlibat di antaranya GAMKI Tolikara, KPA, dan Front Independen Kabupaten Tolikara.Dalam orasinya, massa mendesak agar dugaan penembakan terhadap warga sipil diusut secara tuntas dan tidak kembali terulang di Kabupaten Tolikara. Mereka juga meminta agar aparat penegak hukum memproses pihak-pihak yang dianggap bertanggung jawab sesuai ketentuan hukum yang berlaku.Selain menyuarakan keadilan bagi Korona Penggu, massa turut menyerahkan sejumlah aspirasi kepada DPRD Kabupaten Tolikara untuk diperjuangkan melalui jalur legislasi. Di antaranya usulan pembentukan peraturan daerah yang memuat penolakan pembangunan Kodim dan pembukaan pos TNI maupun Polri di sejumlah distrik di Tolikara.Massa juga mengusulkan agar aktivitas perdagangan di pasar diprioritaskan bagi mama-mama asli Papua, serta pekerjaan sebagai pengemudi ojek, sopir taksi rute Wamena–Tolikara, dan sejumlah sektor ekonomi lokal lainnya diprioritaskan bagi Orang Asli Papua, khususnya masyarakat Tolikara.

Di halaman Kantor DPRD Kabupaten Tolikara, aspirasi massa diterima langsung oleh pimpinan dan sejumlah anggota DPRD. Dialog berlangsung secara terbuka sebelum massa membubarkan diri sekitar pukul 13.00 WIT. Seluruh rangkaian aksi berlangsung aman, tertib, dan kondusif.Ketua I DPRD Kabupaten Tolikara, Wes Kogoya, S.Sos, mengapresiasi jalannya demonstrasi yang berlangsung damai.

“Hari ini yang pertama kami mengucap syukur kepada Tuhan karena atas campur tangan Tuhan demonstrasi damai yang dilakukan di Kantor DPRD Kabupaten Tolikara berjalan dengan baik. Tujuan teman-teman datang adalah untuk menyelesaikan persoalan penembakan yang terjadi di Puncak Mega beberapa hari lalu. Kami sebagai lembaga DPRD sangat mengapresiasi apa yang disampaikan hari ini.

Menurut Wes, DPRD akan meneruskan seluruh aspirasi masyarakat kepada pihak-pihak yang berwenang agar mendapat tindak lanjut.”Harapan kami, apa yang disampaikan masyarakat hari ini melalui DPRD dapat ditanggapi oleh pihak-pihak terkait sehingga masalah ini dapat diselesaikan. Pelakunya harus diproses sesuai hukum yang berlaku,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua GAMKI Tolikara, Yaas Kogoya, mengatakan aksi tersebut merupakan bentuk kepedulian organisasi kepemudaan terhadap persoalan kemanusiaan yang terjadi di Kabupaten Tolikara.

“Kami dari OKP yang ada di Tolikara hadir untuk menyampaikan aspirasi terkait dugaan pelanggaran HAM atau persoalan kemanusiaan yang terjadi di Tolikara. Peristiwa yang terjadi pada 27 Juni di Puncak Mega tidak boleh terulang lagi. Selama ini sudah beberapa kali terjadi penembakan terhadap warga sipil, namun belum pernah kami suarakan secara bersama seperti hari ini,”ujarnya.

Ia menegaskan bahwa Tolikara selama ini dikenal sebagai salah satu daerah yang relatif aman di Papua Pegunungan sehingga berbagai insiden kekerasan terhadap warga sipil tidak boleh kembali terjadi.

“Kami berharap tidak ada lagi penembakan yang terjadi di wilayah hukum Tolikara. Itu yang ingin kami sampaikan mewakili pimpinan organisasi kepemudaan di Tolikara,” katanya.

Koordinator Lapangan Aksi Kemanusiaan, Franz Wandik Kulungga, ST, mengatakan aksi tersebut bukan hanya untuk memperjuangkan keadilan bagi Korona Penggu, tetapi juga sebagai bentuk kepedulian terhadap sejumlah kasus kematian warga sipil yang menurut peserta aksi pernah terjadi di Tolikara.

“Kami mengambil bagian dalam aksi ini bukan hanya karena saudara kami Korona Penggu menjadi korban pembunuhan di tanah Tolikara. Menurut catatan kami, ada sekitar sebelas warga sipil yang menjadi korban dalam berbagai peristiwa. Karena itu kami menilai persoalan ini sebagai isu kemanusiaan yang harus diselesaikan,”jelasnya.

Ia juga meminta DPRD Kabupaten Tolikara membentuk tim khusus (timsus) untuk mengawal penyelesaian berbagai kasus tersebut.”Kami meminta DPRD Tolikara membentuk tim khusus agar kasus-kasus pembunuhan yang terjadi di Tolikara dapat diselesaikan secara tuntas dan adil.”Selain itu, Franz menyampaikan sejumlah aspirasi lain yang menurutnya merupakan suara masyarakat Tolikara. Aspirasi tersebut meliputi penolakan terhadap pelaksanaan Proyek Strategis Nasional (PSN) di Distrik Wari dan Distrik Dow, penolakan pembangunan Kodim dan pos TNI di Distrik Nabunage, Biuk, Loggoma, dan Arombok, serta penolakan terhadap Program Koperasi Merah Putih.Menurutnya, seluruh usulan tersebut diharapkan dapat diperjuangkan oleh DPRD Kabupaten Tolikara melalui mekanisme konstitusional sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Setelah seluruh aspirasi disampaikan dan diterima DPRD, massa membubarkan diri secara tertib menuju titik kumpul masing-masing. Secara keseluruhan, demonstrasi berlangsung damai tanpa adanya insiden keamanan maupun gangguan ketertiban umum. (Red).

Loading

Facebook Comments Box