15 Maret 2026

DETIK PAPUA

Berita Papua Terkini

Oleh: Ponius Yoman 

Tak terasa, bangsa Papua telah memasuki 64 tahun perjalanan sejak 1 Desember 1961 hari yang dianggap sebagai tonggak kemerdekaan dari kolonial Belanda kepada orang asli Papua. Hari ini, 1 Desember 2025, kita masih berada pada posisi yang sama. Dari pelosok kampung hingga kota besar, alam semesta dan para leluhur yang hidup di atas tanah ini ikut merayakan dan merefleksikan dengan cara masing-masing.

Sebagian orang mengekspresikan perayaan melalui tulisan, opini, cerpen, artikel, puisi, hingga pesan singkat yang tersebar lewat brosur, stiker, Facebook, Instagram, WhatsApp, TikTok, Twitter, dan lain-lain. Sebagian lainnya memilih aksi damai, jumpa pers, diskusi, live streaming, musik, ibadah, barapen, dan berbagai bentuk kegiatan.

Bagi Orang Asli Papua (OAP), 1 Desember adalah hari yang paling istimewa. Bahkan, hari ini juga bertepatan dengan bulan suci umat Kristiani, sehingga memiliki makna spiritual yang mendalam.

Tidak heran jika notifikasi di ponsel kita penuh dengan ucapan “Happy Independent Day West Papua, 1 Desember 1961–2025.” Itu adalah wujud kesadaran generasi atas sejarah bangsanya. Kesadaran ini patut diapresiasi. Namun, di sisi lain, ada generasi yang perlu kita ajak kembali untuk memahami sejarah Papua secara utuh. Banyak yang hanya ikut ramai, mendengar, tapi enggan mempelajari akar sejarahnya. Secara fisik mereka Papua kulit, rambut, bahasa, marga tetapi isi hati dan cara berpikir sudah meluntur, bahkan menyerupai orang lain.

Lebih jauh lagi, sebagian orang Papua telah ditaklukkan secara total oleh sistem oligarki yang membuat mereka menyangkal jati diri bangsanya. Semua demi kenyamanan. Pagi siang bicara Papua di ruang terbuka, sore sibuk memenuhi kebutuhan pribadi di ruang tertutup. Bicara cinta Papua, tapi ketika diajak berdiskusi tentang keselamatan manusia dan hutan Papua, mereka memilih diam, apatis, atau mencari alasan.

Ini tidak benar. Tidak pantas kita menjadi pengkhianat bagi sesama. Kita harus sadar dan merenungkan nasib saudara-saudara kita di hutan, lorong, kampung, hingga kota. Masih banyak yang bersuara lantang, bahkan rela mempertaruhkan nyawa, meski kebutuhan hidup semakin mendesak.

Karena itu, di momen ini, mari kita ajukan pertanyaan sederhana, tentang hati, perasaan, pikiran, keinginan, dan kebutuhan. Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin bisa membuka ruang pemahaman baru atas hal-hal yang selama ini dianggap abu-abu.

Barangkali, dengan pertanyaan itu, kita bisa menggoyahkan kesadaran palsu yang telah lama menguasai tanah ini. Semoga!

Penulis adalah Pemuda Pemuda Gereja Asal Lanny Jaya Papua Pegunungan.

JL. Singkong, Yomaima. Senin, 1 Desember 2025 | Pukul 23.50 WP

Loading

Facebook Comments Box