DETIK PAPUA

Berita Papua Terkini

KNPB DOGIYAI,NYATKAN SIKAP 1 MEI AWAL PEMUSNAHAN BANGSA PAPUA

STATEMENT POLITIK

West Papua, adalah nama Negara kami, yang pernah didekelarasikan pada tahun 1961, yang  lengkap  dengan  atribur  Negara  dan pemerintahan,  selayaknya  sebuah  Negara merdeka  Oleh  tokoh –tokoh  terkemuka  Papua  saat  itu,  disiarkan  langsung  oleh  radio Nederland dan radio Australia.

Indonesia    tidak    pernah    mengakui    kemerdekaan    Papua.    sebaliknya    indonesia melancarkan  penyerangan  dengan persenjataan  lengkap  yang  didapatnya  dari  Rusia, melalui  isi  komando  TRIKORA  yang  dibacakan  oleh  Ir.  Soekarno  (Presiden  Indonesia Pertama), di alun-alun Yogykarta pada tanggal 19 desember 1961. Indonesia mengklaim atas pulau Papua sebagai wilayah kekuasaanya.

Akhirnya membuat Amerika dan Negara Sekutu Belanda lainnya ketakutan karena posisi Indonesia di Asia Tenggara sangat strategis untuk pelayaran dan perdagangan (ekonomi), maka Roberth Jhonson dari Staff Dewan Keamanan Amerika mengirim Surat Rahasia ke Mr. Bundi Assisten Pribadi President John. F.Kennedy pada tanggal 18 Desember 1961 ( ketika  Indonesia  mengadakan  Kampanye  Militer  ) untuk  segera  mendesak  Belanda menyerahkan  Administrasi  Papua  ke  Indonesia  serta  menghapus  Hak  Pribumi Papua  untuk Menentukan Nasib  Sendiri agar  Soekarno  bisa mengurangi Komunisnya di Indonesia. Dua minggu sebelum negosiasi antara Belanda dan Indonesia pada tanggal 20 Maret 1962 untuk penyelesaian masalah Nederland New Guinea, saat ini kami sebut dengan nama West Papua, muncul tekanan kepada President John. F. Kennedy dari CIA, the Departments of State, Defence, the Army, the Navy, the Air Force, the Joint Staff, dan NSA  pada  tanggal  7  Maret  1962.  Kemudian  mereka  telah  menunjuk  Diplomat  Amerika yang berhasil membungkam Komunis di internasional, yaitu Tuan Elsworth Bunker untuk menjadi penengah ( Mediator ) antara Belanda dan Indonesia.

Dengan adanya penekanan Pemerintah Amerika melalui Surat Rahasia Presiden Kenedy yang tertanggal  2 April 1962,  menekankan Pemerintah Belanda agar menerima rencana Tuan Bunker, maka Belanda terpaksa menanda tangani Perjanjian New York tanggal 15 Agustus   1962   untuk   menyerahkan   Administrasi   Nederlands   Nieuw   Guinea   kepada Pemerintahan  Sementara  PBB  UNTEA  (  United  Nation  Temporary  Executive  Authority ) pada  tanggal  1  Oktober  1962.  Kemudian  diserahkan  lagi  ke  Indonesia,  dengan  catatan enam  tahun  kemudian  yaitu  pada  tahun  1969  harus  diberikan  Hak  Penentuan  Nasib Sendiri kepada rakyat penduduk pribumi Papua.

Pada  akhirnya  Bangsa  dan  Tanah  Air  Papua  dijadikan  tumbal  oleh  Amerika Serikat  dan sekutunya  Atas  kepentingan  ekonomi  dan  gencarnya  Paham  komunis  yang  dianut  oleh soekarno waktu itu. Mekanisme internasional untuk menyelesaikan masalah Papua yang ditawarkan  oleh  Tuan  Bunker,  melahirkan  satu  konspirasi  politik  yang  luar  biasa  antara Indonesia dan Amerika beserta sekutunya.

Sebelum dilakukan Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA) tahun 1969, pada tahun 1967 Amerika Serikat bersama Indonesia telah menandatangani kontrak karya, untuk  operasi tambang  di  wilayah  timika –Papua,  yang  sampai  saat  ini    masih  beropersasi.  Dengan kepentingan  ekonomi,  Amerika  Serikat  dan  sekutunya  mengabaikan  Hak  dasar  Rakyat Bangsa Papua dalam mekanisme pelaksanaan PEPERA 1969.

Proses  Penentuan  Nasib  Sendiri  (  Self  Determination  )  yang  dilaksanakan  di  Papua adalah  merupakan  salah  satu  Proses  yang  memalukan  PBB  sendiri  sebagai  Organisasi Pembela  Keadilan  dan  HAM  di  dunia  serta  Indonesia  dan  Amerika  karena  telah  ikut melanggar   Hak-hak   Sipil   dan   Politik   maupun   Hak-hak   Penduduk   Pribumi   Papua sebagaimana  tertuang  di  dalam  Kovenan  Internasional  tentang  Hak-hak  Sipil  dan  Polik serta  Deklarasi  PBB  tentang  Hak-hak  Penduduk  Pribumi.  Selain  itu,  mereka  juga  telah melanggar Perjanjian New York Pasal 18 “one man one vote” yang ditanda tangani di Gedung PBB tanggal 15 Agustus 1962 karena membatasi 1026 orang peserta, sementara jumlah pendudukan Papua saat itu ∓8000 orang. Jumlah peserta 1026 orang pun, terdiri dari  Penduduk  Pribumi  dan  NonPribumi  serta  tidak  dilaksanakan  sesuai  mekanisme Internasional.

Pada  tanggal  1  mei  1963,  Bangsa  Papua  diintegrasi  melalui  mekanisme  yang  tidak demokratis  ke  dalam  bingkai  RI,  sejak  itu  pula  bangsa  Papua  mengukir  sejarah  pahit dalam  hidup  bangsa  Papua.  Diawali  sejak  Pemerintah  Indonesia  menjadikan  Papua sebagai  Daerah  Operasi  Militer  (DOM);  Pengiriman  Pasukan  Organik  dan  Non  organic semakin  meningkat,  Pembunuhan  terhadap  bangsa  Papua  terjadi  dimana-mana  secara fisik  maupun  non  fisik,  Pelanggaran  HAM  terjai  di  Papua  dari  berbagai  sisi,  mulai  dari POLITIK, EKONOMI, SOSIAL-BUDAYA, PENGRUSAKAN LINGKUNGAN, PENDIDIKAN, KESEHATAN, DLL . Beberapa aspek kejahatan yang dilakukan Indonesi terhadap bangsa Papua,  terkadang  menjadi  bahan  empuk  untuk  kempanye  luar  negeri  dengan  tujuan tertentu, oleh kalangan tertentu.

Sejarah  panjang  ini,  telah  memberikan  gambaran  kepada  kami  bangsa  Papua,  untuk menentukan  nasib  bangsa  Papua  kedepan,  oleh  karena  itu  kami  dari  Komite  Nasional Papua  Barat  menyampaikan  suara  Rakyat  Bangsa  Papua  kepada  seluruh  bangsa  di dunia  bahwa  PEPERA  1969  tidak  demokratis  dan  cacat  hukum  internasional,  maka REFERENDUM  bagi  Rakyat  Pribumi  Papua  adalah  satu-satunya  solusi  terbaik  untuk menentukan  nasib  bangsa  Papua  sebagaimana  diatur  dalam  Kovenan  Internasional tentang hak sipil dan politik.

Dengan ini kami rakyat Bangsa Papua menyatakan sikap:Pada  hari  ini,  tanggal  1  Mei  2021.  Kami  rakyat  Bangsa  Papua  Barat  yang  di mediasi oleh Komite Nasional Papua Barat [KNPB] menyatakan sikap kami bahwa:

1.Kami rakyat Pribumi Papua Barat  tidak  pernah  dan tidak akan  pernah mengakuiNegara  Kesatuan  Republik  Indonesia  (  NKRI  )  untuk  menduduki  wilayah  kami, Papua Barat.

2.Proses  memasukan  wilayah  kami  Papua  Barat  kedalam  penguasa  Negara Kesatuan Republik Indonesia ( NKRI ) mulai dari tahun  1963 hingga tahun 1969 atas  kerja  sama  Indonesia,  Amerika  Serikat,  Belanda  dan  PBB  adalah  suatu rekayasa yang penuh dengan pelanggaran terhadap standar-standar dan prinsip hukum  internasional.  Karena  kami  selaku  pemilik  wilayah  Papua  Barat  tidak pernah  dilibatkan  dalam  pertemuan  dan  perjanjian-perjanjian  internasional  yang membicarakan status politik wilayah kami Papua Barat.

3.Perjanjian sepihak yang dibuat dalam “New York Agreement” tidak dilaksanakan sepenuhnya oleh PBB, Indonesia dan Belanda saat PEPERA tahun 1969 dimana kami  rakyat  Papua  Barat  tidakpernah  diberikan  hak  poliitik  untuk  memilih berdasarkan  prinsip  “one  man  one  vote”  dalam  pelaksanaan  PEPERA  yang dilakukan  oleh  1025  perwakilan  yang  ditunjuk  oleh  Indonesia  untuk  memilih mewakili   kami   rakyat   bangsa   Papua   Barat.   Ini   adalah   suatu   pelanggaran terhadap hak politik kami bangsa Papua Barat.

4.Negara Kesatuan Rebublik Indonesia (NKRI) melalui operasi-operasi tumpasnya telah  membunuh  sebagian  besar  penduduk  pribumi  Papua  Barat  sejak  DOM (daerah operasi militer) diterapkan di Papua Barat sejak tahun1963

5.Negara  Kesatuan  Republik  Indonesia  (NKRI)  telah  mengejar,  mengintimadi, meneror,   memenjarahkan   dan   membunuh   orang-orang   Papua   Barat   yang berjuang demi hak dan kedaulatan Bangsa Papua Barat.

6.Otsus  bukan  solusi  penyelesaian  masalah  Papua  Barat,  karena  kami  rakyat pribumi Papua Barat yang ada diatas tanah Papua Barat tidak pernah menyetujui pemberlakuan  Otonomi  Khusus,  Program  UP4B  dan  segala  kebijakan  negara Republik Indonesia di Papua Barat.

7.Barangsiapa  yang  mendukung  Otsus  dan  segala  kebijakan  negara  RI  di  Papua Barat,  mereka  adalah  bagian  dari  penjajah  yang  sedang  berkompromi  bersama Indonesia  untuk  meniadakan  hak  politik  kami  rakyat  pribumi  Papua,  karena masalah  utama  kami  rakyat  Pribumi  Papua  adalah  hak  penentuan  nasip  sendiri yang telah diinjak-injak dan dihilangkan melalui Pelaksanaan Pepera tahun 1969.

8.Maka,  kami  tidak  mengakui  keberadaan  pemerintahan  Republik  Indonesia  serta seluruh  lembaga-lembaga  negara  Indonesia  yang  ada  diatas  tanah  air  Papua Barat.

 

Oleh karena itu, berdasarkan pernyataan kami diatas, kami rakyat pribumi Papua Barat menuntut kepada Indonesia agar:

1.Menghentikan semua manuver politik yang sedang diberlakukan melalui Otonomi Khusus jilid II, Pemekaran, Pilkada, Pembentukan MRP, dll diatas tanah air kami Papua Barat.

2.Indonesia Stop labelisasi atau diskriminalisasi perang TPNPB dengan Teroris. Di papua hanya ada dua militer yaitu “Militer Papua Barat Komando Nasional Tentara Pembebasan  Nasional  Papua  Barat  (TPNPB)  di  Bawa  Gen.  Goliat  Tabuni  dan Militer Indonesia TNI dan POLRI”

3.Indonesia  dan  Papua  Barat  sebagai  subjek  hukum  internasional  agar  segera mengembalikan  status  politik  Papua  Barat  ke  meja  hukum  Internasional  untuk membuktikan  secara  jujur  dan  bijaksana  tentang  keabsahan  Indonesia  dalam wilayah kami Papua Barat demi kemanusiaan dan keadilan bangsa Papua Barat.

4.Segera   mengambil   kemauan   politik   untuk   menggelar   referendum   secara demokratis di Papua Barat dibawah pengawasan PBB demi mencapai solusi final atas konflik politik di Papua Barat.

5.Hentikan  pendekatan  militeristik  dalam  penyelesaian  masalah  Papua  Barat, karena cara-cara itu kuno di era demokrasi yang terbuka ini.

6.Menolak penyelesaian Masalah Papua melalui Perundinagan atau Dialaog Papua dan   Jakarta   dalam  Mekanisme   nasional   Indonesia   atau   di   luar   Mekanisme Perserikatan  Bangsa-Bangsa  PBB,  tapai  Rakayat  Papua  Menuntuk  Dialaok  atau Perundinagan Internasional yang di bawa pengawasan Hukum Internasional (PBB) Untuk  melahirkan  solusi  penyelesaian  Masalah  dengan  cara-cara  yang  adil  dan bermartabat melalui mekanisme Referendum sebagai solusi dan Demokratis.

7.Menuntut  dengan  tegas  PT Freeport Indonesia segera  ditutup  dari  Tanah  Papua. (karena  sejak  kontrak  karya  PT.  Freeport  tahun  1967  sebelum  2  tahun  PEPERA 1969 dilakukan, telah terjadi Konspirasi politik antara Indonesia Dan Amerika untuk melimpahkan nasib bangsa Papua ke dalam bingkai RI.

8.Menuntut Pemerintah Indonesia; Segera bebaskan TAPOL & NAPOL Papua yang di  tahan  di  seluruh  Indonesia  dengan  tuduhan  yang  tidak  berdasarkan  Fakta Hukum yang Jelas. Karena Mereka yang Menjadi Tahanan Politik adalah pejuang HAM ,Demokrasi  & Politik sebagaimana diatur dalam Kovenan Internasional.

9.Menuntut  Pemerintah  Indonesia;  Segera  buka  akses  bagi  Perss  Nasional  dan Internasional (karena perss memiliki kebebasan untuk meliput berbagai berita yang terjadi  di  berbagai  tempat  di  muka  bumi  ini  dan  mempublikasikannya  dengan penuh  rasa  tanggung  jawab  dan  dijamin,  dilindungi  serta  diakui  oleh  undang –undang  internasional termasuk Indonesia)

10.Menuntut Pemerintah Indonesia; Segera buka ruang demokrasi bagi Pejuang HAM (karena  Perjuang  HAM  tidak  terikat  pada  tempat  dan  waktu,  sehingga  harus diberikan ruang kebebasan kepada pejuang HAM).

Demi persatuan perjuangan Bangsa Papua Barat, maka kami juga menyeruhkan kepada  seluruh  komponen  bersama  organisasi-organisasi  perjuangan  Papua  Barat agar:

1.Komando Nasional Tentara Pembebasan Nasiona Papua Barat (TPNPB) adalah tantara satu-satunya di Papua yang eksis pemperjunagkan Existensi perjuangan Politik  dan  Melindungi  Rakyat  Papua  dari  Ancaman  Kapitalime,Kolonilame  dan Inmperialisme Global di negeri Revolusi Papua Barat.

2.Hentikan pertikaian internal orang Papua dan antara organisasi perjuangan, serta segala  keputusan-keputusan  organisasi  yang  sepihak  dan  tidak  melambangkan nilai-nilai persatuan Nasional dan Pembebasan Nasional.

Demikian pernyataan ini dibuat berdasarkan kehendak murni rakyat bangsa Papua Barat.

Salam Satu Hati Satu Jiwa: One People One Soul

Kita harus mengakhiri

Dogiyai, 1 Mei 2021

KOMITE NASIONAL PAPUA BARAT (KNPB) WILAYAH DOGIYAI

Ketua Umum Saugas Goo  Sekjen 1 Yakobus Wain

Press Release

Loading

About Author